Asakita.News | BANDA ACEH – Pengusaha nasional asal Aceh, Zakaria A Gani, resmi memimpin Persaudaraan Pidie Raya (PIRA). Di bawah kepemimpinannya, PIRA diarahkan menjadi rumah besar masyarakat Pidie Raya sekaligus jembatan kolaborasi untuk memperkuat persaudaraan, kemandirian ekonomi, pendidikan, dan pembangunan masyarakat.
Zakaria menegaskan, PIRA tidak boleh hanya menjadi organisasi seremonial. Menurutnya, visi besar Pidie Raya harus diterjemahkan menjadi program nyata yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat di tingkat gampong.
“PIRA adalah rumah besar persaudaraan dan jembatan kolaborasi Pidie Raya,” tegas Zakaria.
Ia menyampaikan, PIRA ke depan akan membangun Peta Besar Potensi Pidie Raya dan Diaspora. Pemetaan tersebut mencakup akademisi, pengusaha, dokter, tenaga profesional, ahli pertanian, ahli teknologi, hingga masyarakat yang memiliki jaringan perbankan, akses pasar dan kemampuan menjadi mentor.
Di sisi lain, PIRA juga akan memetakan kebutuhan masyarakat, mulai dari produk unggulan gampong, kebutuhan teknologi petani, pembiayaan UMKM, akses pasar, pelatihan pemuda hingga pendidikan dan pendampingan anak yatim.
“PIRA mempertemukan keduanya. Inilah PIRA yang saya impikan. Bukan sekadar organisasi, tetapi rumah besar persaudaraan dan jembatan kolaborasi Pidie Raya,” ujarnya.
LIMA GERAKAN BESAR PIRA
Untuk mewujudkan visi tersebut, Zakaria memperkenalkan Lima Gerakan Besar PIRA yang menjadi arah kerja organisasi ke depan.
Pertama, PIRA Diaspora Network.
Program ini akan menghimpun dan menghubungkan masyarakat Pidie Raya yang berada di berbagai daerah di Indonesia maupun luar negeri. Kekuatan berupa ilmu, pengalaman, jaringan, modal, teknologi dan akses pasar akan diarahkan untuk ikut membangun kampung halaman.
Kedua, PIRA Yatim Cendekia.
Program ini tidak hanya berorientasi pada pemberian santunan, tetapi juga pendampingan jangka panjang bagi anak-anak yatim melalui pendidikan, keterampilan, mentoring serta pembukaan akses kesempatan agar mereka mampu membangun masa depan secara mandiri.
Ketiga, PIRA UMKM, Tani & Ekonomi Produktif.
PIRA akan mendorong petani, nelayan, pelaku UMKM dan keluarga produktif agar mampu meningkatkan kapasitas usaha dan naik kelas.
“Kita ingin masyarakat tidak hanya bertahan hidup, tetapi menjadi pelaku ekonomi yang semakin mandiri dan berdaya saing,” kata Zakaria.
Keempat, PIRA Capital Access.
Program ini dirancang untuk mempertemukan masyarakat yang memiliki potensi dan peluang usaha dengan perbankan, lembaga keuangan syariah, dunia usaha, investor, pengusaha diaspora serta berbagai sumber pembiayaan produktif.
Kelima, PIRA Market Network.
Menurut Zakaria, kemampuan produksi harus diikuti dengan kepastian pasar. Karena itu, PIRA akan membangun jaringan pasar bagi produk masyarakat Pidie Raya, mulai dari Banda Aceh, Medan, Jakarta, Malaysia hingga pasar yang lebih luas.
“Karena kita tidak ingin masyarakat hanya pandai berproduksi. Kita harus menjawab pertanyaan: siapa yang akan membeli?” tegasnya.
Zakaria menyebut kelima gerakan tersebut harus berjalan dalam satu arah, yakni mengubah kekuatan persaudaraan menjadi kemandirian masyarakat Pidie Raya.
“Diaspora menghadirkan ilmu dan jaringan. Ilmu meningkatkan kemampuan. Modal menggerakkan usaha. Pasar menjaga keberlanjutan. Semuanya kita arahkan kepada satu tujuan: masyarakat Pidie Raya yang mandiri, bermarwah dan bermartabat,” katanya.
PIRA SIAP JADI MITRA PEMBANGUNAN
Zakaria juga menegaskan bahwa PIRA tidak mungkin bekerja sendiri. Karena itu, ia mengajak Pemerintah Aceh, Pemerintah Kabupaten Pidie, Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya, perguruan tinggi, perbankan, dunia usaha, ulama, organisasi masyarakat, media, diaspora dan seluruh elemen masyarakat untuk membangun kolaborasi.
Ia menekankan, PIRA tidak hadir untuk mengambil alih peran pemerintah, melainkan menjadi mitra strategis dalam pembangunan.
“PIRA hadir sebagai mitra pembangunan. Kita membantu mengidentifikasi masalah, memetakan potensi, mempertemukan sumber daya, menghadirkan ilmu, menghubungkan modal, membuka jaringan dan membantu membuka pasar,” jelasnya.
Zakaria berharap gagasan tersebut tidak berhenti dalam forum atau ruang seminar, tetapi benar-benar diwujudkan dalam kerja nyata di tengah masyarakat.
“Kita ingin memastikan bahwa gagasan tidak berhenti di ruang seminar, tetapi turun menjadi kerja nyata di gampong-gampong,” tegasnya.
Kepada Pemerintah Aceh, Pemerintah Kabupaten Pidie dan Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya, Zakaria menyampaikan kesiapan PIRA untuk membangun kolaborasi.
“PIRA siap berkolaborasi. Bukan hanya datang membawa proposal, tetapi insya Allah datang membawa data, jaringan, gagasan dan solusi,” pungkasnya.


