Asakita.news | PIDIE JAYA — Di tengah sisa-sisa lumpur dan puing banjir yang masih menyisakan duka, warga Gampong Meunasah Raya, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya menyuarakan satu permintaan yang paling mendasar: hunian tetap (huntap) dibangun di atas tanah milik mereka sendiri. Masyarakat dengan tegas menolak rencana relokasi ke tempat baru karena menyangkut keberlangsungan hidup dan mata pencaharian yang telah mereka jalani turun-temurun.
Mahmudi, salah satu warga terdampak yang rumahnya hancur diterjang banjir, mengungkapkan bahwa tanah yang mereka tinggali bukan hanya tempat tinggal, tetapi ruang hidup yang menyatu dengan identitas dan ekonomi keluarga. Di lahan itulah mereka bertani, berkebun, dan menjalankan usaha kecil yang menjadi sumber nafkah harian. “Kami tidak menolak huntap, tapi kami mohon dibangun di tanah kami sendiri. Di sinilah kami hidup dan bekerja,” ujar Mahmudi dengan suara bergetar.
Bagi warga, relokasi bukanlah sekadar pindah tempat, tetapi berarti memulai dari nol di tengah kondisi ekonomi yang masih rapuh pascabencana. Proses adaptasi ke lingkungan baru dinilai akan sangat berat, terlebih mereka harus membangun kembali jejaring sosial, lahan garapan, hingga rutinitas ekonomi yang selama ini menjadi penopang keluarga. Kekhawatiran terbesar warga adalah kehilangan sumber penghidupan yang selama ini mereka pegang teguh.
Selain persoalan ekonomi, warga juga menyoroti aspek sosial dan psikologis yang tak kalah penting. Terpisah dari lahan sendiri berarti terpisah dari sejarah, tetangga, dan hubungan sosial yang menjadi bagian dari kekuatan komunitas. Relokasi besar-besaran juga dikhawatirkan dapat menimbulkan ketegangan baru di lokasi tujuan, terutama bila tidak sesuai dengan karakter masyarakat setempat.
Karena itu, warga Meunasah Raya berharap pemerintah daerah maupun pusat dapat mendengarkan aspirasi mereka dengan hati yang terbuka. Mereka meminta proses perencanaan huntap melibatkan masyarakat secara langsung agar kebijakan yang diambil benar-benar sesuai kebutuhan di lapangan. Bagi warga, membangun kembali kehidupan di tanah sendiri adalah satu-satunya cara untuk bangkit dengan lebih bermartabat dan berkelanjutan setelah bencana besar yang melanda.

