Oleh. Hasan Basri, S.Ag., MM
Dunia pendidikan kita hari ini sedang berada dalam persimpangan yang ganjil. Di satu sisi, kita mengejar digitalisasi dan skor literasi-numerasi yang tinggi.
Namun di sisi lain, ada sesuatu yang keropos dalam hubungan manusiawi antara guru dan murid.
Kita sering mendengar berita tentang guru yang dikriminalisasi karena mendisiplinkan siswa, atau siswa yang kehilangan rasa hormat karena menganggap guru sekadar “penyedia jasa” informasi.
Dalam situasi yang kaku ini, kita merindukan hadirnya sosok yang saya sebut sebagai “Mas Guru”.
Sebuah konsep pendidik yang tidak hanya mengajar dengan otak, tetapi mendidik dengan hati dan perasaan.
Ketika Data Menggeser Rasa
Saat ini, penilaian siswa seringkali terjebak dalam angka-angka dingin di atas kertas atau aplikasi rapor digital.
Kita lupa bahwa di balik nilai matematika yang rendah, mungkin ada seorang anak yang sedang berjuang melawan patah semangat di rumahnya.
Di sinilah peran “Mas Guru” dibutuhkan. Menilai siswa dengan hati berarti melihat melampaui angka. Penilaian dengan perasaan bukan berarti tidak objektif, melainkan memberikan ruang bagi empati.
Guru yang menilai dengan hati akan memahami bahwa perkembangan karakter—kejujuran, kegigihan, dan adab—jauh lebih mahal harganya daripada sekadar angka 100 yang didapat dari hasil mencontek.
Hukuman yang Memanusiakan
Salah satu isu paling sensitif saat ini adalah masalah kedisiplinan.
Banyak guru merasa “takut” untuk menegur karena batas antara mendidik dan kekerasan menjadi bias secara hukum.
Namun, jika kita kembali ke konsep mendidik dengan hati, hukuman bukanlah alat balas dendam atau pelampiasan amarah.
Hukuman yang lahir dari perasaan kasih sayang adalah sebuah proses refleksi. Saat seorang guru menegur dengan rasa “sakit” karena melihat anak didiknya salah jalan, getaran tulus itu biasanya sampai ke batin siswa.
Hukuman yang diberikan “dengan hati” tidak akan meninggalkan trauma lebam, melainkan kesadaran untuk memperbaiki diri. Inilah yang akan melahirkan hubungan yang harmonis: siswa tidak patuh karena takut, melainkan karena segan dan sayang.
Saling Menyayangi: Muara Pendidikan
Tujuan akhir dari proses mendidik dengan hati adalah terciptanya ekosistem saling menyayangi.
Ketika guru memandang siswa sebagai masa depan yang harus dijaga, dan siswa memandang guru sebagai pelita yang membimbing, maka gesekan-gesekan negatif yang belakangan ini viral di media sosial tidak akan punya ruang untuk tumbuh.
Karakter tidak bisa diajarkan melalui slide presentasi. Karakter ditularkan melalui keteladanan. Guru yang menyayangi muridnya dengan tulus akan secara otomatis mengajarkan murid tersebut cara menyayangi orang lain.
Mari kita kembalikan sekolah bukan hanya sebagai tempat transfer ilmu, tapi sebagai “rumah rasa”. Guru harus berani kembali menggunakan perasaan dalam mendidik, dan masyarakat harus mendukung kehangatan itu.
Sebab, pendidikan tanpa hati hanya akan melahirkan robot-robot pintar yang mati rasa. Namun, pendidikan di tangan “Mas Guru” yang penuh kasih akan melahirkan manusia-manusia unggul yang tahu cara memanusiakan manusia lainnya.
Penulis Hasan Basri S.Pd, M.M Kepala SMAN 1 Simpang Mamplam dan pemerhati sosial

