Asakita.News | Banda Aceh – Tokoh muda Aceh, Suryadi DJamil,S.sos.M.I.kom atau yang akrab disapa Om Sur, mengajak seluruh masyarakat Aceh untuk tidak mudah terprovokasi maupun diadu domba oleh kelompok-kelompok yang tidak bertanggung jawab.
Menurut Om Sur, seluruh persoalan yang terjadi di Aceh harus disikapi dengan kepala dingin, mengutamakan dialog dan keselamatan masyarakat, serta tidak membiarkan perbedaan berkembang menjadi konflik.
“Jangan mau Aceh diadu domba oleh kelompok-kelompok asing yang tidak bertanggung jawab. Aceh sudah terlalu banyak mengalami konflik. Jangan sampai persoalan yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan komunikasi justru berujung pada pertumpahan darah,” tegas Suryadi Jamil, di Banda Aceh, Minggu, 16/8/2026.
Ia juga mengapresiasi langkah TNI dan Polri serta Wakil Gubernur Aceh dalam mengendalikan situasi saat berlangsungnya massa zikir. Menurutnya, pendekatan persuasif yang dilakukan aparat merupakan langkah tepat untuk menjaga situasi tetap aman dan tertib.
“Saya mengapresiasi TNI, Polri dan Wakil Gubernur Aceh yang mampu mengendalikan massa dengan tertib. Walaupun ada dinamika di lapangan, termasuk penurunan Merah Putih, jangan langsung kita nilai sebagai sebuah kegagalan. Yang paling utama adalah bagaimana rakyat bisa diselamatkan dan tidak terjadi pertumpahan darah,” ujar Om Sur.
Suryadi secara khusus memberikan apresiasi terhadap keberanian Kapolda Aceh yang turun langsung menemui massa. Menurutnya, kehadiran pimpinan aparat keamanan di tengah masyarakat menunjukkan keberanian sekaligus komitmen untuk mencegah terjadinya gejolak yang lebih besar.
“Saya hormat kepada Kapolda. Beliau berani hadir langsung di tengah-tengah massa. Ini langkah luar biasa. Begitu juga Pangdam dan Kabinda yang hadir bersama-sama di lapangan. Mereka mengambil risiko untuk memastikan keadaan tidak semakin memanas,” katanya.
Ia menilai pendekatan persuasif dan komunikasi langsung jauh lebih baik daripada tindakan represif yang berpotensi memperbesar ketegangan.
“Saya melihat semua pihak bekerja secara persuasif. Wakil Gubernur melakukan negosiasi dengan perwakilan massa, sementara Kapolda, Pangdam dan Kabinda hadir langsung di tengah masyarakat. Ini adalah cara-cara yang harus dikedepankan ketika menghadapi situasi sensitif,” ujar Suryadi djamil.S.sos.M.I.kom
Om Sur juga mengapresiasi masyarakat yang akhirnya membubarkan diri dengan tertib. Menurutnya, sikap tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Aceh masih menjunjung tinggi adab dan menginginkan perdamaian.
“Saya memberikan apresiasi kepada masyarakat yang mau membubarkan diri dengan tertib. Itu menunjukkan bahwa masyarakat Aceh memiliki adab dan masih mengutamakan kedamaian. Peristiwa seperti ini jangan sampai terulang lagi, apalagi dalam momentum memperingati perdamaian Aceh,” tegasnya.
Namun demikian, Suryadi menilai peristiwa tersebut harus menjadi bahan evaluasi bagi kepemimpinan Aceh. Ia mempertanyakan keberadaan Gubernur Aceh dalam situasi yang membutuhkan kehadiran seorang pemimpin di tengah masyarakat.
“Saya mempertanyakan, di mana Gubernur Aceh ketika rakyat membutuhkan kehadiran pemimpinnya? Pemimpin itu harus berani hadir di tengah-tengah rakyat, bukan hanya ketika keadaan tenang. Kalau memang sudah tidak mampu memimpin Aceh, jangan dipaksakan. Rakyat membutuhkan pemimpin yang berani dan mau hadir bersama rakyat,” kata Om Sur.
Ia menegaskan, kritik tersebut bukan ditujukan untuk memperkeruh keadaan, melainkan sebagai bentuk kepedulian terhadap masa depan Aceh.
“Kita semua punya tanggung jawab membangun Aceh. Bukan hanya TNI dan Polri. Pemerintah, ulama, tokoh masyarakat, pemuda dan seluruh rakyat Aceh harus bersama-sama menjaga perdamaian. Jangan sampai rakyat terus bertanya-tanya tentang kemampuan pemimpin daerah dalam menghadapi persoalan Aceh,” ujarnya.
Suryadi djamil,M.I.kom juga mengingatkan seluruh pihak agar tidak menjadikan perbedaan sikap sebagai alasan untuk memecah belah masyarakat Aceh.
“Aceh tidak boleh diadu domba. Jangan beri ruang kepada siapa pun yang ingin melihat Aceh kembali terpecah. Kita sudah memiliki pengalaman pahit. Sekarang waktunya menjaga perdamaian, memperkuat persatuan dan memastikan masa depan Aceh ditentukan oleh kepentingan rakyat Aceh,” pungkas Om Sur.


