Asakita.News | GAYO LUES — Memasuki satu tahun kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati Gayo Lues, Suhaidi–Maliki, berbagai capaian pembangunan dan pemulihan pascabencana menunjukkan tren positif yang dirasakan langsung masyarakat. Dilantik oleh Gubernur Aceh Muzakir Manaf pada 16 Februari 2025, duet kepemimpinan ini dinilai mampu menjawab harapan publik di tengah tantangan bencana hidrometeorologi dan keterbatasan anggaran daerah.
Sejak awal masa jabatan, kepemimpinan Suhaidi–Maliki langsung bergerak cepat melalui pendekatan kolaboratif lintas sektor. Sinergi kuat antara pemerintah daerah, Forkopimda, TNI–Polri, kejaksaan, serta elemen masyarakat menjadi kunci percepatan penanganan bencana dan pemulihan sosial-ekonomi warga. Program hunian sementara (huntara), bantuan stimulan rumah, serta penataan kawasan terdampak berjalan terukur dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
Ketua Pusat Studi Pemuda Aceh (PUSDA) Heri Safrijal SP, MTP menilai kepemimpinan Suhaidi sebagai “nafas panjang penantian masyarakat Gayo Lues” yang kini terjawab melalui kinerja nyata pro-rakyat. Menurutnya, keberhasilan penanganan bencana, percepatan birokrasi pelayanan, serta kedisiplinan aparatur menjadi indikator kuat kepemimpinan yang efektif dan berorientasi hasil. “Ini bukan retorika, tetapi bukti kerja yang dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Capaian pembangunan daerah juga tercermin pada indikator makro. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Gayo Lues tahun 2025 tercatat 68,25 dan menunjukkan tren peningkatan berkelanjutan. Tingkat kemiskinan pun berhasil ditekan dari 18,3 persen pada 2024 menjadi 16,77 persen pada 2025, bahkan menuju kisaran 15,22 persen. Peningkatan skor Monitoring Center for Prevention (MCP) KPK turut memperlihatkan perbaikan tata kelola pemerintahan dan integritas birokrasi daerah.
Keberhasilan manajemen bencana Gayo Lues juga mendapat apresiasi dari pemerintah pusat. Kasatgaswil Aceh menyebut penanganan bencana di Gayo Lues sebagai salah satu yang paling progresif di Aceh, dengan respons cepat, data akurat, serta koordinasi efektif hingga tingkat desa. Kehadiran huntara dan program bantuan sosial dinilai mampu menjaga stabilitas sosial masyarakat di tengah masa pemulihan.
Di bidang tata kelola aparatur, kepemimpinan Suhaidi dikenal tegas dalam disiplin birokrasi dan pelayanan publik. Penataan ASN, PPPK, serta sistem peringatan kinerja menjadi bagian reformasi internal yang bertujuan memastikan pelayanan masyarakat berjalan optimal. Pendekatan kepemimpinan yang merakyat namun tegas ini dinilai menciptakan budaya kerja produktif di lingkungan pemerintahan daerah.
Dengan fondasi capaian tahun pertama yang kuat, kepemimpinan Suhaidi–Maliki dipandang sebagai momentum kebangkitan Gayo Lues menuju daerah yang tangguh, inklusif, dan berdaya saing. Sinergi pemerintah dan masyarakat, khususnya dalam pemulihan pascabencana dan pembangunan ekonomi lokal, diyakini menjadi motor utama kemajuan Gayo Lues di masa mendatang.

