Oleh. Hasan Basri
Dunia pendidikan Indonesia tengah mengalami krisis yang jarang dibahas secara jujur: hilangnya rasa dalam ruang kelas. Di balik jargon reformasi pendidikan, digitalisasi sekolah, dan parade skor literasi-numerasi, relasi paling esensial dalam pendidikan—hubungan guru dan murid—justru dibiarkan rapuh oleh sistem.
Hari ini, guru dituntut menjadi fasilitator, administrator, sekaligus operator data. Namun di saat yang sama, negara gagal menyediakan ruang aman bagi guru untuk menjalankan fungsi paling mendasar: mendidik dengan hati. Fenomena ini memunculkan kerinduan terhadap sosok pendidik yang dikenal dengan karakter “Mas Guru”—guru yang mengajar dengan rasa, bukan sekadar mengikuti prosedur.
Sekolah yang Terjebak Angka, Negara yang Abai Rasa
Kebijakan pendidikan saat ini terlalu memuja angka. Rapor digital, asesmen nasional, dan indikator kinerja menjadi kompas utama. Siswa direduksi menjadi grafik capaian, sementara guru dipaksa tunduk pada target administratif yang kering empati.
Dalam sistem seperti ini, negara seolah lupa bahwa pendidikan bukan industri, dan siswa bukan produk. Di balik nilai rendah seorang anak, sering kali ada kemiskinan, kekerasan domestik, atau krisis psikologis yang tak pernah masuk variabel penilaian.
Konsep “Mas Guru” justru berdiri berseberangan dengan logika teknokratis tersebut. Guru tidak memandang siswa sebagai beban statistik, tetapi sebagai manusia yang sedang tumbuh. Sayangnya, sistem pendidikan nasional belum memberi ruang bagi pendekatan berbasis rasa ini untuk hidup secara bermartabat.
Guru Takut Menegur, Negara Lepas Tangan
Salah satu ironi terbesar pendidikan hari ini adalah guru takut mendisiplinkan muridnya sendiri. Kasus kriminalisasi guru akibat teguran atau hukuman edukatif terus berulang, sementara negara lebih sibuk mengatur regulasi daripada melindungi pendidik di lapangan.
Batas antara mendidik dan kekerasan dibiarkan kabur. Akibatnya, guru memilih diam. Sekolah menjadi ruang permisif, dan kedisiplinan kehilangan makna. Dalam situasi ini, negara tidak bisa sekadar cuci tangan dengan dalih penegakan hukum.
Dalam perspektif “Mas Guru”, hukuman bukan kekerasan, melainkan ekspresi kepedulian. Teguran yang lahir dari rasa sakit melihat murid salah arah justru menjadi energi pendidikan yang paling jujur. Namun nilai-nilai ini runtuh ketika negara gagal membangun perlindungan hukum yang adil bagi guru.
Keteladanan Dikalahkan Regulasi
Pendidikan karakter kerap digembar-gemborkan dalam dokumen kebijakan. Ironisnya, implementasi di lapangan nyaris nihil. Karakter tidak tumbuh dari modul, apalagi dari presentasi PowerPoint. Karakter tumbuh dari keteladanan—dan keteladanan lahir dari hubungan emosional yang sehat antara guru dan murid.
“Mas Guru” adalah simbol perlawanan terhadap pendidikan yang terlalu steril. Guru yang hadir sebagai teladan hidup—jujur, adil, dan peduli—lebih efektif membentuk karakter dibanding seribu aturan tertulis.
Namun, selama negara lebih percaya pada regulasi ketimbang manusia, pendidikan karakter akan terus menjadi slogan kosong.
Sekolah Tanpa Rasa, Generasi Tanpa Empati
Jika kondisi ini dibiarkan, sekolah akan berubah menjadi ruang dingin yang hanya melahirkan generasi pintar tetapi miskin empati. Konflik guru dan siswa yang viral di media sosial hanyalah gejala, bukan akar masalah.
Akar masalahnya adalah negara yang gagal memanusiakan pendidikan.
Sekolah seharusnya menjadi “rumah rasa”, bukan kantor birokrasi mini. Guru harus diberi kepercayaan untuk mendidik dengan hati, dan masyarakat harus berhenti menghakimi guru secara instan tanpa memahami konteks.
Pendidikan tanpa rasa akan melahirkan robot-robot cerdas yang kehilangan nurani. Sebaliknya, pendidikan di tangan “Mas Guru” akan melahirkan manusia merdeka—cerdas pikirannya, matang jiwanya, dan kuat karakternya.
Penulis: Hasan Basri, S.Pd., M.M
Kepala SMAN 1 Simpang Mamplam dan pemerhati sosial

