PIDIE JAYA – asakita.news, – Ketua Koalisi Barisan Guru (KoBaR GB) Aceh, Husniati Bantasyam, menyampaikan harapan serius kepada Pemerintah Aceh agar memberikan perhatian lebih konkret kepada para guru yang terdampak musibah banjir, khususnya mereka yang kehilangan tempat tinggal dan fasilitas penunjang pembelajaran. Hal ini di sampaikan pada Sabtu 8 /2/2026.
Harapan tersebut disampaikan Husniati saat berkunjung ke sejumlah sekolah di Kabupaten Pidie Jaya (Pijay), dalam rangka penyaluran bantuan kepada guru menjelang bulan suci Ramadhan. Dalam kunjungan itu, KoBaR GB Aceh menyalurkan bantuan sosial sebagai bentuk kepedulian terhadap guru yang terdampak bencana.
Husniati menilai, salah satu bentuk kepedulian nyata yang bisa segera dilakukan pemerintah adalah memberikan kelonggaran kredit bagi guru yang memiliki pinjaman di Bank Aceh Syariah. Ia mengusulkan agar selama satu tahun para guru cukup membayar iuran pokok tanpa dibebani margin atau bunga, sehingga mereka dapat memulihkan kondisi ekonomi keluarga pascabencana.
“Banyak guru yang rumahnya rusak bahkan tidak bisa ditempati. Dalam kondisi seperti ini, rasanya berat jika masih dibebani cicilan penuh. Pemerintah Aceh dan Bank Aceh Syariah perlu hadir dengan kebijakan yang berempati,” ujar Husniati.
Selain itu, Husniati juga berharap adanya kompensasi khusus bagi guru yang tetap mengajar di sekolah-sekolah yang terdampak banjir. Menurutnya, proses belajar mengajar di wilayah terdampak jelas mengalami keterbatasan sarana dan prasarana, sehingga membutuhkan dukungan ekstra.
Meski tidak merinci bentuk kompensasi yang diharapkan, Husniati menegaskan bahwa bantuan tersebut seharusnya diarahkan untuk kepentingan pembelajaran, seperti penyediaan alat belajar mengajar, pemulihan ruang kelas, atau dukungan lain yang meringankan beban guru dan siswa.
“Kami percaya pemerintah punya banyak skema bantuan. Tinggal kemauan dan keberpihakan. Guru tetap dituntut profesional, tapi negara juga wajib memastikan mereka bisa bekerja dalam kondisi yang manusiawi,” tegasnya.
Husniati menyayangkan bahwa hingga kini belum terlihat kebijakan khusus yang menyentuh langsung kebutuhan guru terdampak bencana, padahal mereka adalah garda terdepan dalam menjaga keberlangsungan pendidikan di daerah rawan musibah.
Menurutnya, jika pemerintah hanya fokus pada perbaikan fisik tanpa memperhatikan kesejahteraan guru, maka pemulihan pendidikan akan berjalan pincang. “Guru tidak cukup hanya diminta bersabar. Mereka butuh solusi nyata,” katanya.
KoBaR GB Aceh berharap aspirasi ini dapat segera ditindaklanjuti, terlebih menjelang Ramadhan yang seharusnya menjadi momentum memperkuat solidaritas dan keadilan sosial, khususnya bagi para pendidik yang tetap mengabdi di tengah keterbatasan.

