ASAKITA.NEWS | BANDA ACEH — Sosok Bunda Salma kian mencuri perhatian publik Aceh sebagai legislator perempuan yang dikenal bekerja senyap namun berdampak nyata. Di tengah dinamika politik daerah yang terus bergerak, kehadirannya dinilai sebagai figur pemersatu yang mampu menjembatani aspirasi masyarakat dengan arah kebijakan pembangunan. Tidak hanya aktif di parlemen, Bunda Salma juga dikenal luas sebagai tokoh perempuan yang konsisten menghadirkan kerja nyata di tengah masyarakat.
Dalam pandangan banyak kalangan masyarakat Aceh, nama Bunda Salma kini semakin menguat sebagai figur yang layak diperhitungkan dalam kepemimpinan legislatif ke depan. Bahkan, sejumlah elemen masyarakat mulai menyuarakan harapan agar dirinya dapat mengambil peran strategis sebagai Ketua DPRA, mengingat rekam jejaknya yang dinilai matang, komunikatif, serta memiliki kemampuan merangkul berbagai kelompok sosial dan politik.
Kepedulian sosial Bunda Salma menjadi salah satu kekuatan utamanya. Ia dikenal aktif turun langsung membantu masyarakat, terutama kelompok rentan seperti anak yatim dan anak-anak penderita kanker, yang membutuhkan perhatian khusus. Kehadirannya bukan sekadar simbol empati, tetapi nyata dalam bentuk dukungan moral, bantuan kemanusiaan, serta penguatan semangat bagi keluarga yang sedang menghadapi masa sulit.
Dalam bidang pendidikan, Bunda Salma juga menunjukkan kepedulian serius terhadap masa depan generasi Aceh. Ia terlibat dalam berbagai program bantuan pendidikan bagi siswa SD, SMP, hingga SMA, termasuk mendorong dukungan terhadap siswa berprestasi melalui bantuan sarana penunjang pendidikan. Langkah tersebut dinilai sebagai investasi sosial jangka panjang dalam membangun kualitas sumber daya manusia Aceh.
Di lingkungan legislatif, sebagai anggota Komisi III DPRA, Bunda Salma dikenal aktif dan konstruktif dalam menyuarakan gagasan kebijakan strategis daerah. Ia mendorong peningkatan kepatuhan pajak kendaraan bermotor sebagai bagian dari upaya memperkuat pendapatan daerah. Bahkan, ia turun langsung ke lapangan melakukan sosialisasi bersama masyarakat untuk meningkatkan kesadaran pentingnya kontribusi fiskal terhadap pembangunan Aceh.
Perannya juga semakin terasa melalui kiprahnya sebagai Sekretaris PMI Aceh, khususnya dalam aksi kemanusiaan pascabencana. Ia kerap hadir di wilayah terdampak bencana di berbagai kabupaten/kota di Aceh tanpa sorotan berlebihan, memastikan bantuan sampai langsung kepada masyarakat. Langkah tersebut memperlihatkan karakter kepemimpinan yang humanis, responsif, dan berorientasi pelayanan.
Bagi banyak kalangan, Bunda Salma bukan sekadar nama dalam panggung politik Aceh, tetapi simbol kepemimpinan perempuan yang kuat, lembut, dan menyatukan. Dengan rekam jejak sosial yang luas, komunikasi politik yang inklusif, serta kedekatan dengan masyarakat akar rumput, ia dinilai menjadi salah satu figur perempuan Aceh yang memiliki potensi besar sebagai perekat kekuatan politik sekaligus harapan baru dalam memperkuat peran legislatif Aceh ke depan.

