Asakita.com | Aceh Tengah – Mantan Penjabat (PJ) Gubernur Aceh yang juga menjabat sebagai Dirjen Bina Administrasi Kewilayahan BINA ADWIL, Kementerian Dalam Negeri, Safrizal ZA, menunjukkan semangat dan komitmen penuh dalam membantu masyarakat Aceh yang sedang menghadapi bencana hidrometeorologi yang melanda hampir seluruh wilayah Aceh.
Musibah banjir bandang dan longsor yang terjadi di Aceh dan Sumatera telah menimbulkan dampak multidimensi: jutaan warga mengungsi, ribuan desa terisolasi, dan jaringan infrastruktur publik mengalami kerusakan berat. Di tengah situasi genting ini, Safrizal yang akrab disapa Bang Saf menggerakkan seluruh kapasitas yang dimilikinya untuk memastikan penanganan bencana berjalan cepat, terkoordinasi, dan berorientasi pada keselamatan warga.
Sebagai pejabat strategis di Kemendagri, Safrizal memastikan sinergi antara pemerintah pusat, Pemerintah Aceh, pemerintah kabupaten/kota, serta unsur TNI–Polri berjalan tanpa hambatan. Ia mengikuti secara saksama dinamika lapangan dan mengarahkan agar seluruh jajaran pemerintahan fokus pada upaya tanggap darurat, terutama pembukaan akses desa terisolir, mobilisasi logistik, serta percepatan pemulihan layanan dasar.
“Bang Saf tahu betul apa yang harus dilakukan,” ujar salah satu pejabat daerah yang terlibat dalam rapat koordinasi penanganan bencana. “Setiap kebijakan yang diambil terukur, cepat, dan langsung menyasar kebutuhan masyarakat.”
Kedekatannya dengan Aceh bukan sekadar ikatan birokrasi. Sebagai putra Aceh asli, Safrizal tak dapat menyembunyikan kesedihannya ketika menyaksikan sebagian besar wilayah tanah kelahirannya porak-poranda akibat banjir dan longsor. Ia menegaskan bahwa penderitaan warga bukan sekadar angka statistik, melainkan tragedi kemanusiaan yang membutuhkan empati, kehadiran negara, dan kerja pemerintah yang total.
“Pasca bencana hidrometeorologi, beban masyarakat Aceh bukan hanya dirasakan oleh mereka yang rumahnya terendam atau aksesnya terputus,” katanya dalam sebuah koordinasi internal. “Hampir seluruh masyarakat terdampak, baik dari sisi ekonomi, pekerjaan, maupun aktivitas keseharian. Situasi ini memerlukan langkah pemulihan yang cepat, tepat, dan berkelanjutan.”
Bang Saf juga mendorong agar pemerintah daerah memperkuat langkah-langkah mitigasi dan peningkatan kesiapsiagaan, mengingat intensitas fenomena cuaca ekstrem belum sepenuhnya stabil. Menurutnya, Aceh membutuhkan ketahanan sistemik mulai dari tata ruang, kapasitas pemerintah daerah, hingga edukasi kebencanaan di tingkat komunitas.
Dalam berbagai kesempatan, Safrizal menyampaikan bahwa negara tidak boleh hadir setengah hati. Dukungan logistik, tim lapangan, sarana evakuasi, hingga pemulihan layanan dasar harus terus diperkuat sampai situasi kembali normal.
Pergerakan cepat Bang Saf ini mendapatkan apresiasi dari berbagai pihak, terutama karena ia dianggap mampu menjembatani percepatan kebijakan pusat ke daerah. Di tengah bencana besar yang menghantam hampir setengah wilayah Aceh, sosoknya kembali menjadi figur penting yang menghadirkan ketenangan, kepastian, dan koordinasi yang solid.[]

