• Redaksi
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
Senin, November 2, 2026
  • Login
AsaKita.News
  • Beranda
  • Daerah
  • Nasional
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Pariwara
  • Siswa Menulis
  • Suara Guru
  • Suara Kita
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Daerah
  • Nasional
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Pariwara
  • Siswa Menulis
  • Suara Guru
  • Suara Kita
No Result
View All Result
AsaKita.News
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Daerah
  • Nasional
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Pariwara
  • Siswa Menulis
  • Suara Guru
  • Suara Kita
Home Aceh

Tak Cukup Jago Digital! Siswa SMKN 1 Banda Aceh Digembleng Langsung di Industri Yamaha

Admin by Admin
Oktober 20, 2026 | 14 : 40
in Aceh
0
1.5k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

ASAKITA.NEWS | BANDA ACEH,  — Menguasai Canva, TikTok, dan kecerdasan buatan (AI) belum cukup untuk menjadi marketer andal.

Dunia usaha membutuhkan tenaga pemasaran yang mampu membaca perilaku konsumen, merancang strategi bisnis, membangun kepercayaan pelanggan, hingga mendorong keputusan pembelian.

Pesan inilah yang mengemuka dalam kegiatan guru tamu dan pembekalan Lomba Kompetensi Siswa (LKS) di SMK Negeri 1 Banda Aceh, Senin–Selasa (19–20 Oktober 2026).

Selama dua hari, siswa tidak hanya memperkuat teori pemasaran di sekolah, tetapi juga mendapatkan pengalaman belajar yang terhubung langsung dengan industri melalui Dealer Yamaha Alfa Scorpii Banda Aceh.

Kegiatan yang menghadirkan Ahmad Madani sebagai narasumber dan pendamping pembelajaran tersebut menjadi upaya sekolah menjembatani kompetensi di ruang kelas dengan tuntutan dunia kerja yang terus berubah.

Sebanyak 40 siswa kelas XI konsentrasi Bisnis Ritel dan Bisnis Digital bersama enam guru mengikuti sesi guru tamu. Sementara itu, empat calon peserta LKS mendapatkan pembekalan khusus bersama seorang guru pembimbing untuk memperkuat kesiapan menghadapi kompetisi.

Marketing Modern Bukan Sekadar Membuat Konten

Perubahan lanskap pemasaran digital menuntut calon tenaga profesional memiliki kompetensi yang lebih luas daripada sekadar menguasai aplikasi. Kemampuan membuat konten harus diimbangi pemahaman terhadap target pasar, kebutuhan konsumen, pesan komunikasi, dan tujuan bisnis.

Dalam pembekalan tersebut, Ahmad Madani menekankan pentingnya memadukan komunikasi, kreativitas konten, pemahaman bisnis, orientasi pelanggan, serta karakter profesional.

Teknologi AI dapat mempercepat pekerjaan dan membantu proses kreatif. Namun, teknologi tidak otomatis membuat seseorang mampu menyusun strategi yang tepat. Kemampuan memahami konteks, memilah informasi, membaca kebutuhan pelanggan, dan membangun kepercayaan tetap menjadi bagian penting dari kompetensi seorang marketer.

Perspektif ini menjadi bekal bagi siswa untuk memahami bahwa pemasaran bukan semata-mata soal membuat produk terlihat menarik di media sosial, melainkan bagaimana menghadirkan nilai yang sesuai dengan kebutuhan konsumen.

Belajar dari Industri, Bukan Hanya dari Simulasi

Keterlibatan Dealer Yamaha Alfa Scorpii Banda Aceh memberikan konteks nyata tentang bagaimana pemasaran bekerja dalam aktivitas bisnis sehari-hari.

Di lingkungan dealer, siswa dapat memahami perjalanan pelanggan, mulai dari ketertarikan terhadap produk, pencarian informasi, komunikasi dengan tenaga penjualan, hingga pertimbangan sebelum mengambil keputusan pembelian.

Sadikin Kwok, BM MDS Alfa Scorpii Banda Aceh, menegaskan pentingnya pengalaman industri bagi siswa pendidikan vokasi.

“Kami berharap siswa dapat melihat bahwa pemasaran dan penjualan membutuhkan pengetahuan produk, kemampuan memahami pelanggan, pelayanan yang baik, serta kerja sama antartim. Pengalaman seperti ini penting untuk mempersiapkan mereka sebelum memasuki dunia kerja,” ujarnya.

Pembelajaran berbasis industri diharapkan membuat siswa memahami hubungan antara pengetahuan produk, keterampilan komunikasi, pelayanan pelanggan, dan strategi penjualan. Kompetensi tersebut menjadi modal penting bagi lulusan SMK untuk memasuki dunia kerja maupun mengembangkan usaha sendiri.

LKS Bukan Sekadar Mengejar Juara

Di lingkungan sekolah, pembekalan LKS juga diarahkan untuk membangun mental kompetitif sekaligus memperkuat keterampilan profesional siswa.

Kepala SMK Negeri 1 Banda Aceh, Sufiani, S.Pd., menegaskan bahwa sekolah harus mempersiapkan siswa menghadapi perubahan kebutuhan dunia kerja.

“Sekolah memiliki tanggung jawab untuk mempersiapkan siswa menghadapi dunia yang terus berubah. Karena itu, kami mendorong kegiatan yang mempertemukan pembelajaran di kelas dengan pengalaman praktisi dan kebutuhan industri,” katanya.

Ketua Program Keahlian Pemasaran, Mardiani, S.Pd., menambahkan bahwa persiapan LKS tidak boleh berhenti pada penguasaan materi lomba.

“Persiapan LKS bukan hanya persoalan menguasai materi lomba. Kami juga ingin siswa mampu menyusun strategi, menyelesaikan masalah, mengelola waktu, dan mempertahankan gagasannya ketika diuji,” ujarnya.

Sementara itu, Guru Pemasaran Cut Mitra Susanti, S.Pd., M.M., menilai keterhubungan dengan industri memperkuat pemahaman siswa terhadap pemasaran sebagai kompetensi yang saling terintegrasi.

Menurutnya, riset konsumen, komunikasi pemasaran, pembuatan konten, dan keterampilan menjual perlu dipahami sebagai satu kesatuan, bukan keterampilan yang berdiri sendiri.

Salah seorang siswa kelas XI Pemasaran, Shina Qisti Fathan, menyambut pembelajaran tersebut sebagai kesempatan untuk memperluas pengalaman di luar teori.

“Kami tidak ingin hanya bisa menjelaskan teori pemasaran. Kami juga ingin belajar bagaimana menghadapi konsumen, membuat strategi yang tepat, dan membuktikan kemampuan melalui praktik,” ungkapnya.

Menyiapkan Lulusan yang Siap Bersaing

Kolaborasi sekolah dan industri menjadi langkah penting dalam memperkuat pendidikan vokasi. Sekolah membangun fondasi pengetahuan, praktisi memperkenalkan perkembangan profesi, sedangkan industri menghadirkan gambaran penerapan kompetensi dalam situasi bisnis nyata.

Melalui kegiatan dua hari tersebut, SMKN 1 Banda Aceh berupaya menjadikan pembekalan LKS bukan sekadar persiapan menghadapi perlombaan, tetapi juga ruang untuk membangun pola pikir profesional, keterampilan pemecahan masalah, dan kesiapan kerja.

Tantangan berikutnya adalah memastikan pengalaman tersebut berlanjut dalam pembelajaran praktik, proyek pemasaran, dan penyusunan portofolio siswa.

Sebab, di tengah persaingan dunia kerja yang semakin dinamis, lulusan pemasaran tidak cukup hanya mampu menggunakan teknologi. Mereka harus mampu memahami pelanggan, menyusun strategi, memberikan pelayanan, dan menghasilkan nilai nyata bagi bisnis.

Inilah arah pendidikan vokasi yang dibutuhkan: bukan sekadar melahirkan siswa yang menguasai teori, melainkan calon profesional yang siap menghadapi tantangan industri.

38
Tags: Jaringan Industri dan VokasiLKSmahir Canva
Previous Post

Dua Hari Belajar Marketing, Siswa SMKN 1 Banda Aceh Dekat dengan Industri

Next Post

Ahmad Madani Ajak Guru Pesantren Al-Manar Bangun Reputasi Digital

Admin

Admin

Next Post

Ahmad Madani Ajak Guru Pesantren Al-Manar Bangun Reputasi Digital

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Redaksi
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber

Hak Cipta Asakita.news © 2024 MUSTAKIM

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Daerah
  • Nasional
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Pariwara
  • Siswa Menulis
  • Suara Guru
  • Suara Kita

Hak Cipta Asakita.news © 2024 MUSTAKIM

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In