ADVERTISEMENT
  • Redaksi
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
Sabtu, Mei 16, 2026
  • Login
AsaKita.News
  • Beranda
  • Daerah
  • Nasional
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Pariwara
  • Siswa Menulis
  • Suara Guru
  • Suara Kita
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Daerah
  • Nasional
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Pariwara
  • Siswa Menulis
  • Suara Guru
  • Suara Kita
No Result
View All Result
AsaKita.News
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Daerah
  • Nasional
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Pariwara
  • Siswa Menulis
  • Suara Guru
  • Suara Kita
ADVERTISEMENT
Home Aceh

Selamat Tinggal Kota Impian

Redaksi by Redaksi
Mei 15, 2026 | 20 : 19
in Aceh, Sastra guru dan siswa
0
Selamat Tinggal Kota Impian
1.5k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Puisi

Diawal aku bertugas
terasa berat berada di sisimu
langkah-langkahku bagai batu
dipikul sunyi di bahu waktu.

Namun hari terus berjalan,
dan jarak perlahan mencair.
Seiring waktu
engkau sandarkan dagumu di pundakku,
membiarkan lelahmu jatuh
di dada yang diam-diam retak.

Cerita perih kau sodorkan saban hari,
tentang luka yang tak sempat sembuh,
tentang harapan yang digerus hujan,
tentang malam yang terlalu panjang.

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Kubalas tangismu jadi senyum,
meski aku sendiri
sering kehilangan cahaya.
Keluhanmu menjadi sarapan malamku,
kutelan pahitnya
tanpa pernah meminta belas kasihan.

Mimpiku hampir terbuang dalam sunyi,
terdampar di sudut ruang
yang tak lagi mengenal namaku.
Tetapi kau tadah harap dengan air mata,
dan aku kembali berdiri
meski lututku nyaris patah.

Cinta kasih tulus kau senyapkan,
seolah pengorbanan hanyalah angin
yang lewat tanpa suara.
Lumpur banjir kau tak peduli,
aku timpa sendiri semuanya
agar kau tetap tersenyum
di tengah dunia yang mulai runtuh.

Kini senyum menjadi lucuan,
kenangan berubah jadi gurauan.
Seakan tak pernah terjadi apa-apa,
padahal ada hati
yang pernah habis terbakar di sana.

Aku anggap ini takdir,
bagai petir di siang hari—
menggelegar tanpa aba-aba,
membelah langit yang semula tenang.

Selamat tinggal kota impian,
tempat aku pernah menanam setia
dan memanen kecewa.
Kini aku berlabuh
di pelabuhan harapan baru,
membawa luka sebagai guru,
dan doa sebagai bekal hidupku.

Karangan. Abdul Hamid mantan Kacabdin Bireuen

19
Tags: Abdul HamidPuisi
Previous Post

Audiensi dengan Sekjen Kemenkeu, Gubernur Mualem: Kita Minta Tambahan Anggaran

Redaksi

Redaksi

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ADVERTISEMENT
  • Redaksi
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber

Hak Cipta Asakita.news © 2024 MUSTAKIM

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Daerah
  • Nasional
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Pariwara
  • Siswa Menulis
  • Suara Guru
  • Suara Kita

Hak Cipta Asakita.news © 2024 MUSTAKIM

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In