Puisi
Diawal aku bertugas
terasa berat berada di sisimu
langkah-langkahku bagai batu
dipikul sunyi di bahu waktu.
Namun hari terus berjalan,
dan jarak perlahan mencair.
Seiring waktu
engkau sandarkan dagumu di pundakku,
membiarkan lelahmu jatuh
di dada yang diam-diam retak.
Cerita perih kau sodorkan saban hari,
tentang luka yang tak sempat sembuh,
tentang harapan yang digerus hujan,
tentang malam yang terlalu panjang.
Kubalas tangismu jadi senyum,
meski aku sendiri
sering kehilangan cahaya.
Keluhanmu menjadi sarapan malamku,
kutelan pahitnya
tanpa pernah meminta belas kasihan.
Mimpiku hampir terbuang dalam sunyi,
terdampar di sudut ruang
yang tak lagi mengenal namaku.
Tetapi kau tadah harap dengan air mata,
dan aku kembali berdiri
meski lututku nyaris patah.
Cinta kasih tulus kau senyapkan,
seolah pengorbanan hanyalah angin
yang lewat tanpa suara.
Lumpur banjir kau tak peduli,
aku timpa sendiri semuanya
agar kau tetap tersenyum
di tengah dunia yang mulai runtuh.
Kini senyum menjadi lucuan,
kenangan berubah jadi gurauan.
Seakan tak pernah terjadi apa-apa,
padahal ada hati
yang pernah habis terbakar di sana.
Aku anggap ini takdir,
bagai petir di siang hari—
menggelegar tanpa aba-aba,
membelah langit yang semula tenang.
Selamat tinggal kota impian,
tempat aku pernah menanam setia
dan memanen kecewa.
Kini aku berlabuh
di pelabuhan harapan baru,
membawa luka sebagai guru,
dan doa sebagai bekal hidupku.
Karangan. Abdul Hamid mantan Kacabdin Bireuen
