Oleh : FITRIADI, S.Pd.I., M.Pd
Waketum PP IGI
Tidak sedikit sekolah yang berjalan di tempat, bahkan sulit berkembang, bukan karena kekurangan fasilitas atau kemampuan siswa, melainkan karena budaya kerja yang terjebak dalam rutinitas. Aktivitas di sekolah berlangsung seperti siklus harian yang monoton: datang, mengajar, menyelesaikan administrasi, lalu pulang. Rutinitas ini memang memenuhi kewajiban formal, tetapi belum tentu menghasilkan kualitas pendidikan yang diharapkan.
Di beberapa sekolah, guru datang sekadar menjalankan tugas mengajar di kelas. Setelah jam pelajaran selesai, aktivitas pembinaan siswa jarang dilakukan secara serius. Padahal, sekolah yang maju biasanya memiliki tradisi pembinaan yang kuat, seperti membimbing siswa untuk mengikuti olimpiade, Lomba Kompetensi Siswa (LKS), atau berbagai ajang prestasi lainnya. Pembinaan tersebut membutuhkan komitmen, waktu tambahan, dan target yang jelas. Tanpa itu, potensi besar yang dimiliki siswa sering kali tidak tergali secara maksimal.
Situasi serupa juga dapat terjadi pada level kepemimpinan sekolah. Kepala sekolah yang hanya menjalankan rutinitas administratif—menandatangani laporan, memproses surat-menyurat, dan menyelesaikan urusan birokrasi—tanpa diiringi peran kepemimpinan yang visioner, akan sulit mendorong sekolah untuk berkembang. Kepala sekolah seharusnya tidak hanya menjadi administrator, tetapi juga menjadi pemimpin pembelajaran (instructional leader) yang aktif melakukan supervisi, membimbing guru, serta memastikan proses belajar mengajar berlangsung berkualitas.
Lebih dari itu, kemajuan sekolah sangat bergantung pada kemampuan pimpinan dalam merancang program yang selaras dengan visi dan misi sekolah. Program tersebut harus diarahkan pada peningkatan kompetensi guru, pengembangan potensi siswa, serta penciptaan budaya berprestasi. Tanpa perencanaan yang terarah dan pengawasan yang konsisten, kegiatan sekolah akan terus berjalan secara rutin, tetapi tanpa dampak signifikan terhadap kualitas pendidikan.
Sekolah yang maju biasanya juga aktif membuka jejaring dengan berbagai pihak eksternal, seperti dunia usaha dan dunia industri, perguruan tinggi, lembaga pelatihan, maupun komunitas pendidikan. Kerja sama ini dapat membuka peluang bagi siswa untuk berkembang, memperkaya pengalaman belajar, sekaligus meningkatkan reputasi sekolah. Jika relasi semacam ini tidak dibangun, sekolah akan cenderung tertutup dan berjalan sendiri tanpa inovasi.
Oleh karena itu, perubahan mindset menjadi kunci utama. Sekolah tidak cukup hanya menjalankan rutinitas, tetapi harus bergerak dengan semangat pengembangan dan pencapaian prestasi. Guru perlu melihat dirinya bukan sekadar sebagai pengajar, melainkan sebagai pembimbing yang mengantarkan siswa meraih potensi terbaiknya. Sementara kepala sekolah harus tampil sebagai motor penggerak yang mampu menginspirasi, mengarahkan, dan membangun budaya kerja yang produktif.
Ketika seluruh warga sekolah memiliki semangat yang sama untuk melampaui rutinitas dan berorientasi pada kualitas, maka sekolah tidak hanya menjadi tempat bekerja, tetapi juga menjadi ruang tumbuhnya prestasi, inovasi, dan masa depan generasi muda.
Penulis adalah Waketum PP IGI Juga Guru SMK Negeri di Aceh Besar


Tulisan sangat bagus sebagai renungan