BANDA ACEH — Asakita.news, – Kabar duka menyelimuti Aceh. Prof. Dr. Warul Walidin AK, MA, salah seorang tokoh pendidikan, akademisi dan intelektual Aceh, telah berpulang ke rahmatullah pada Rabu, 12 Agustus 2026.
Berita wafatnya sosok yang dikenal luas sebagai akademisi dan tokoh pendidikan itu menyebar dengan cepat. Ungkapan duka datang dari berbagai kalangan, mulai dari sivitas akademika, intelektual, birokrasi, ulama hingga masyarakat umum.
Kepergian Prof. Warul Walidin bukan hanya kehilangan bagi keluarga besar dan dunia kampus, tetapi juga menjadi kehilangan bagi Aceh yang selama ini mengenalnya sebagai sosok yang memiliki perhatian besar terhadap kemajuan pendidikan dan pembangunan sumber daya manusia.
Prof. Warul Walidin pernah dipercaya sebagai Ketua Majelis Pendidikan Aceh (MPA). Ia juga pernah memimpin Universitas Abulyatama sebelum kemudian dipercaya menjadi Rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh periode 2018–2022. Dalam catatan resmi UIN Ar-Raniry, masa kepemimpinannya sebagai rektor berakhir pada Juli 2022 dan kemudian dilanjutkan oleh Prof. Dr. Mujiburrahman, M.Ag.
Semasa memimpin UIN Ar-Raniry, Prof. Warul Walidin dikenal memiliki perhatian terhadap pengembangan pendidikan Islam dan penguatan peran perguruan tinggi dalam membangun peradaban Aceh. Ia antara lain pernah menyampaikan gagasan agar UIN Ar-Raniry terus mengembangkan diri sebagai pusat tamadun Islam.
Menjadi Inspirator Perjalanan Pendidikan
Bagi Abdul Hamid, sosok Prof. Warul Walidin memiliki tempat khusus. Bukan sekadar seorang profesor atau mantan rektor, tetapi seorang guru kehidupan yang pernah memberikan dorongan langsung terhadap perjalanan pendidikannya.
“Bagi saya, Prof. Dr. Warul Walidin adalah sosok yang menjadi motor dan inspirator bagi perjalanan pendidikan saya,” ujar Abdul Hamid mengenang.
Ketika Prof. Warul Walidin menjabat sebagai Ketua Majelis Pendidikan Aceh, ia kerap mengajak Abdul Hamid mengikuti kegiatan Meudrah ke berbagai kabupaten/kota di Aceh.
Dalam kegiatan tersebut, mereka turun langsung bertemu masyarakat dan mendengar aspirasi mengenai pendidikan, termasuk keinginan orang tua agar anak-anak mereka dapat memperoleh pendidikan yang lebih baik.
Bagi Abdul Hamid, pengalaman tersebut menjadi pelajaran berharga bahwa membangun pendidikan tidak cukup hanya dilakukan dari balik meja. Pendidikan harus didekatkan dengan masyarakat dan harus berangkat dari kebutuhan nyata di tengah masyarakat.
Pernah Mengajak Kuliah S3
Kenangan lain yang tidak akan dilupakan Abdul Hamid terjadi ketika Prof. Warul Walidin menjabat sebagai Rektor UIN Ar-Raniry.
Prof. Warul bahkan secara khusus menelepon Abdul Hamid dan memintanya melanjutkan pendidikan ke jenjang doktoral atau S3 di UIN Ar-Raniry.
Saat itu Abdul Hamid sedang menjalankan tugas sebagai Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Kacabdin) di Sabang.
“Beliau menelepon saya khusus dan meminta saya mendaftar kuliah S3 di UIN Ar-Raniry. Namun saat itu anak saya sudah kuliah S2 di IPB, sehingga saya mengurungkan niat mengikuti permintaan beliau,” kenang Abdul Hamid.
Meski keinginan tersebut tidak terwujud, ajakan itu menjadi bukti bagaimana Prof. Warul Walidin terus mendorong orang-orang di sekitarnya untuk meningkatkan kapasitas dan pendidikan.
Lima Hari Sebelum Wafat Masih Bicara Pendidikan
Yang membuat kenangan itu semakin mendalam, Abdul Hamid baru lima hari lalu bertemu langsung dengan Prof. Warul Walidin di lingkungan MPU Aceh.
Pertemuan tersebut berlangsung setelah Prof. Warul Walidin menjadi pemateri dalam kegiatan PANMUS dengan tema “Fenomena Mengungkit Kembali Rekam Jejak Masa Lalu Melalui Platform Digital atau Nondigital Menurut Syariat Islam.”
Pertemuan itu ternyata menjadi pertemuan terakhir mereka.
Dalam perbincangan tersebut, keduanya bahkan masih membicarakan masa depan pendidikan Aceh. Mereka sepakat untuk ikut mendorong pendirian lembaga pendidikan berupa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kecamatan Simpang Tiga, Kabupaten Pidie.
“Di akhir pembicaraan, beliau meminta saya menjumpai Pak Anas Adam. ‘Kita akan duduk bertiga,’ kata beliau,” tutur Abdul Hamid.
Tidak ada yang menyangka, percakapan tentang rencana pendidikan tersebut menjadi percakapan terakhir mereka.
Lima hari kemudian, Prof. Warul Walidin pergi untuk selamanya.
Jejak Sang Profesor untuk Aceh
Semasa hidupnya, Prof. Dr. H. Warul Walidin AK, MA merupakan salah satu figur penting dalam dunia pendidikan tinggi Aceh.
Ia dikenal sebagai akademisi dan guru besar yang aktif dalam berbagai kegiatan pendidikan dan sosial keagamaan. Kiprahnya tidak hanya berlangsung di lingkungan perguruan tinggi, tetapi juga dalam berbagai lembaga pendidikan dan kemasyarakatan.
Sebagai Rektor UIN Ar-Raniry, namanya tercatat dalam berbagai agenda pengembangan kampus. Salah satu fokus yang pernah disampaikannya adalah pentingnya pengembangan keilmuan yang mampu memadukan pendidikan Islam dengan ilmu pengetahuan modern.
Dokumen resmi UIN Ar-Raniry juga mencatat Prof. Warul Walidin sebagai profesor dan peneliti di lingkungan kampus tersebut.
Kini, berbagai jabatan dan gelar tersebut tinggal menjadi bagian dari perjalanan sejarah. Yang tersisa adalah ilmu, gagasan, teladan dan kenangan yang ditinggalkan kepada generasi sesudahnya.
Selamat Jalan Sang Inspirator
Bagi Abdul Hamid, kepergian Prof. Warul Walidin menjadi kehilangan pribadi sekaligus kehilangan bagi dunia pendidikan Aceh.
“Selamat jalan sang inspirator. Engkau telah pergi pada Rabu, 12 Agustus 2026 untuk selamanya. Banyak kesan dan pengetahuan yang engkau titipkan kepada kami,” ungkapnya.
Gagasan mendirikan SMK di Simpang Tiga Pidie yang sempat dibicarakan beberapa hari sebelum kepergiannya menjadi salah satu kenangan terakhir yang akan terus diingat.
Rencana itu mungkin kehilangan sosok penggagasnya. Namun semangat yang ditanamkan Prof. Warul Walidin agar pendidikan terus dibangun dan didekatkan kepada masyarakat diharapkan tidak ikut pergi bersamanya.
Selamat jalan, Prof. Dr. Warul Walidin AK, MA.
Ilmu yang engkau ajarkan menjadi amal.
Gagasan yang engkau tinggalkan menjadi jalan.
Dan inspirasi yang engkau tanamkan akan terus hidup dalam perjalanan pendidikan Aceh.
Al-Fatihah.
Lapor Gureaceh.


