ADVERTISEMENT
  • Redaksi
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
Kamis, September 10, 2026
  • Login
AsaKita.News
  • Beranda
  • Daerah
  • Nasional
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Pariwara
  • Siswa Menulis
  • Suara Guru
  • Suara Kita
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Daerah
  • Nasional
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Pariwara
  • Siswa Menulis
  • Suara Guru
  • Suara Kita
No Result
View All Result
AsaKita.News
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Daerah
  • Nasional
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Pariwara
  • Siswa Menulis
  • Suara Guru
  • Suara Kita
ADVERTISEMENT
Home Aceh

Persatuan Adalah Kekuatan: Saatnya Aceh Bersatu Melawan Narkoba

Admin by Admin
September 1, 2026 | 09 : 41
in Aceh
0
Persatuan Adalah Kekuatan: Saatnya Aceh Bersatu Melawan Narkoba
1.5k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Brigjen Pol. Dr. Dedy Tabrani, S.I.K., M.Si.

Kepala BNN Provinsi Aceh

Asakita.News | BANDA ACEH — Momentum peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia mengingatkan kita bahwaperjuangan menjaga bangsa belumlah berakhir. Jika para pahlawan dahulu berjuang merebut dan mempertahankankemerdekaan dengan darah, air mata, bahkan nyawa, makagenerasi hari ini memiliki tanggung jawab yang tidak kalahbesar: mengisi kemerdekaan dengan menjaga masyarakat dan generasi bangsa dari berbagai ancaman, termasuk narkotika.

ADVERTISEMENT

Kemerdekaan bukanlah garis akhir dari sebuah perjuangan. Kemerdekaan justru menjadi awal dari tanggung jawab yang lebih besar: bagaimana kita menjaga negeri ini, melindungirakyat, dan memastikan generasi penerus tumbuh menjadimanusia yang sehat, tangguh, produktif, serta mampumembawa Indonesia menuju cita-cita Indonesia Emas 2045.

Aceh di Persimpangan: Anugerah Geografis dan Ancaman Narkotika

Aceh memiliki posisi geografis yang sangat strategis. Di satusisi, letak tersebut merupakan anugerah yang membukapeluang besar bagi pertumbuhan ekonomi, perdagangan, dan konektivitas dengan berbagai wilayah, baik di dalam maupunluar negeri. Namun, di sisi lain, posisi geografis tersebut juga menghadirkan kerentanan. Wilayah pesisir yang luas sertakedekatan dengan jalur perdagangan dan pelayaraninternasional dapat dimanfaatkan oleh jaringan narkotikauntuk menyelundupkan barang terlarang ke Indonesia.

Data BNN menyebutkan prevalensi penyalahgunaan narkotikasebesar 2,11 persen atau sekitar 4,15 juta penduduk Indonesia pada periode pengukuran 2023–2025 telah terpapar narkotika. Angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan narkotikabukan persoalan kelompok tertentu, melainkan ancaman yang dapat menyentuh berbagai lapisan masyarakat.

Ancaman tersebut juga tergambar dari sejumlahpengungkapan kasus yang BNN lakukan di Aceh sepanjang2026. Pada Januari 2026, tim gabungan BNN RI bersama Bea Cukai menggagalkan penyelundupan 100 kilogram sabu di Peureulak Timur, Kabupaten Aceh Timur. Dalampengembangan kasus tersebut, kembali ditemukan 60 kilogram sabu yang masih berkaitan dengan jaringan yang sama, yang diduga memiliki keterkaitan dengan sindikatinternasional Golden Triangle. Pengungkapan lainnya terjadidi Kabupaten Bireuen, berupa peredaran 5 kilogram sabu, kemudian kembali diungkap di Bireuen kasus peredaran 3 kilogram sabu pada Juli 2026.

Menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tepatnya di 16 Agustus 2026, BNN Aceh memusnahkan ladang ganja seluas 12 hektare, denganperkiraan sekitar 30.000 batang tanaman ganja siap panen, di wilayah Blang Meurandeh, Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya. Pada bulan yang inijuga, BNN Aceh kembali menggagalkan peredaran 43 kilogram ganja di Kabupaten Aceh Utara.

Rangkaian pengungkapan tersebut menunjukkan bahwaperang melawan narkotika membutuhkan kerja keras, konsistensi, dan sinergi seluruh elemen bangsa. Setiapkilogram sabu yang berhasil kita gagalkan peredarannyabukan sekadar angka dalam laporan penindakan. Jika digunakan sebagai ilustrasi berdasarkan asumsi satu kilogram sabu berpotensi menjangkau sekitar 5.000 orang, makapengungkapan 168 kilogram sabu berarti ada potensi sekitar840 ribu jiwa yang dapat kita lindungi dari ancamanpenyalahgunaan narkotika. Di balik angka tersebut terdapatanak-anak yang tetap dapat mengejar cita-citanya, keluargayang tetap utuh, serta generasi muda yang tetap memilikikesempatan untuk menatap masa depan.

Inilah sesungguhnya makna dari setiap upaya pemberantasannarkotika: menyelamatkan manusia.

Fakta lain menyebutkan sekitar 40 persen narkotika, khususnya sabu, yang masuk ke Indonesia diduga melaluiwilayah Aceh. Angka ini semestinya menjadi panggilan bagiseluruh masyarakat Aceh untuk bangkit dan membangunkekuatan bersama. Aceh tidak boleh hanya dikenal sebagaiwilayah yang rentan terhadap masuknya narkotika. Aceh harus menjadi wilayah yang paling kuat dalam melawannya.

ADVERTISEMENT

Jangan Biarkan Anak Bangsa Menjadi Alat Jaringan Narkotika

Dalam berbagai pengungkapan tindak pidana narkotika di sejumlah wilayah Indonesia, sering ditemukan warga Aceh yang terlibat dalam jaringan peredaran narkotika, baik sebagaikurir, pengedar, maupun bagian dari jaringan yang lebihbesar.

Kepada seluruh masyarakat Aceh, saya ingin menyampaikansebuah pesan yang tulus: jangan pernah biarkan diri kitamenjadi bagian dari tangan-tangan yang menghancurkanbangsa sendiri. Leluhur kita telah berjuang dengan penuhpengorbanan demi martabat Aceh dan Indonesia. Mereka mewariskan kepada kita kehormatan, keberanian, dan semangat untuk menjaga tanah kelahiran.

Sungguh ironis dan menyakitkan apabila hari ini ada di antarakita yang justru menjadi kurir, pengedar, atau bandar narkotika demi keuntungan sesaat, sementara yang menjadikorban anak-anak bangsa sendiri. Setiap narkotika yang diedarkan melalui tangan orang Aceh pada akhirnya akanmeninggalkan luka di tengah masyarakat Aceh sendiri. Janganbiarkan anak-anak muda kita direkrut menjadi kurir. Janganbiarkan masyarakat kita dimanfaatkan oleh bandar. Dan jangan sampai ada di antara kita, secara sadar maupun tidak, menjadikan diri sendiri sebagai alat untuk menghancurkanmasa depan bangsa.

Jangan Biarkan Kita Terpecah

Di tengah ancaman narkotika yang begitu nyata, ada satu halyang harus kita jaga bersama yaitu PERSATUAN. Kita bolehberbeda pilihan politik. Kita boleh berbeda pandangan. Kita boleh memiliki kepentingan, profesi, maupun latar belakangyang berbeda. Tetapi ketika berhadapan dengan narkotika, kita harus memiliki satu suara dan satu langkah. Jangansampai kepentingan pribadi dan golongan membuat kitaterpecah. Jangan sampai kita tergoda oleh iming-imingkekayaan instan hingga akhirnya menjadi bagian dari matarantai peredaran narkotika.

Jaringan narkotika tidak pernah berhenti bergerak. Mereka terus mencari celah, mencari korban, merekrut generasi muda, dan memanfaatkan berbagai kerentanan sosial maupunekonomi. Karena itu, kita harus memahami dengan jelas: musuh kita bukan sesama anak bangsa. Musuh kita adalahnarkotika dan jaringan kejahatan yang ingin menghancurkangenerasi kita.

Saya mengajak seluruh pimpinan di Aceh, para ulama, tokohagama, tokoh masyarakat, akademisi, pemuda, dunia pendidikan, dunia usaha, media, serta seluruh lapisanmasyarakat untuk menyatukan kekuatan. Aceh tidak bolehberjalan sendiri-sendiri dalam menghadapi narkotika. Aceh harus bergerak bersama.

Ulama dan Tokoh Masyarakat adalah Kekuatan Moral

Aceh memiliki sejarah panjang tentang kekuatan, keberanian, dan keteguhan masyarakatnya. Perang melawan narkotikatidak cukup hanya mengandalkan penindakan hukum. Kita membutuhkan ketahanan keluarga, ketahanan masyarakat, pendidikan karakter, penguatan nilai agama, pemberdayaanpemuda, serta kepedulian seluruh komponen masyarakat.Ulama dan tokoh masyarakat memiliki posisi strategis untukmengingatkan masyarakat bahwa narkotika bukan hanyapersoalan hukum, tetapi juga persoalan kemanusiaan, moral, keluarga, dan masa depan generasi. Karena itu, suara ulama, tokoh masyarakat, pendidik, orang tua, dan seluruh elemenmasyarakat harus menjadi benteng yang kuat agar generasimuda Aceh tidak mudah dipengaruhi dan direkrut oleh jaringan narkotika.

Pada akhirnya, perjuangan melawan narkotika bukan hanyatugas BNN, kepolisian, pemerintah, atau aparat penegakhukum. Ini adalah tugas kita semua. Kita harus bersatu untukmenjaga kemerdekaan itu agar tidak dirampas oleh narkotika.

Mari kita jaga Aceh. Mari kita selamatkan generasi muda. Mari kita rapatkan barisan. Karena persatuan adalah kekuatan, dan Aceh harus bersatu melawan narkoba.

28
Previous Post

Kapolda Aceh Ajak Polwan Perkuat Integritas dan Pengabdian di Hari Jadi ke-78

Next Post

PT PEMA Raih Serambi Awards 2026 sebagai “Penggerak Lokomotif Baru Ekonomi Aceh”

Admin

Admin

Next Post
PT PEMA Raih Serambi Awards 2026 sebagai “Penggerak Lokomotif Baru Ekonomi Aceh”

PT PEMA Raih Serambi Awards 2026 sebagai “Penggerak Lokomotif Baru Ekonomi Aceh”

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ADVERTISEMENT
  • Redaksi
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber

Hak Cipta Asakita.news © 2024 MUSTAKIM

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Daerah
  • Nasional
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Pariwara
  • Siswa Menulis
  • Suara Guru
  • Suara Kita

Hak Cipta Asakita.news © 2024 MUSTAKIM

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In