Oleh: Irham Maulana, S.P., M.Si.
Dosen Fakultas Pertanian Universitas Teuku Umar | Alumnus FP USK
Saya tidak sedang berada di Banda Aceh waktu kejadian itu. Kabarnya datang lewat grup WhatsApp alumni, seperti biasa — foto-foto dan video-video buram diambil dalam gelap, dengan caption yang makin lama makin panjang dan makin tidak karuan. Tapi satu detail langsung membuat saya berhenti menggulir layar, Gedung Fakultas Pertanian.
Gedung lama. Tempat saya menghabiskan hampir delapan tahun hidup saya.
Saya masuk Fakultas Pertanian 2012, dan sejak semester pertama sudah tahu bahwa kampus hijau di Kopelma Darussalam itu bukan sekadar tempat belajar. Ada semacam gravitasi di sana. Orang-orang yang belum pernah ke sana mungkin tidak paham mengapa mahasiswa pertanian bisa menghabiskan waktu berjam-jam di kampus bahkan di luar jadwal kuliah — entah di kebun percobaan, di selasar gedung lama, atau di lab biologi tanah yang selalu berbau campuran antara tanah basah dan alkohol.
Di lab itulah saya menghabiskan sebagian besar pengerjaan skripsi saya — penelitian tentang mikoriza, cendawan yang hidup bersimbiosis dengan akar tanaman. Makhluk yang tidak bisa dilihat mata telanjang, tapi kalau kamu tahu cara kerjanya, kamu akan sadar betapa besar perannya dalam keberlangsungan tanaman dan kesuburan tanah. Saya datang pagi-pagi ke lab sebelum orang lain tiba, kadang pulang setelah maghrib. Bukan karena diperintah. Tapi karena riset itu — betapapun kecilnya — terasa seperti sesuatu yang nyata dan penting.
Gedung tua itu menyimpan semua itu. Lorong-lorongnya, bau kayunya yang lembab di musim hujan, papan pengumuman yang selalu penuh lebih dari kapasitasnya. Dan ketika saya lanjut S2 di Magister Agribisnis yang juga bernaung di bawah atap Fakultas Pertanian, saya masih menggunakan ruang-ruang yang sama, duduk di kursi yang mungkin sudah ada sejak saya belum lahir.
Maka ketika foto-foto itu beredar — hangus, tiang besi yang melengkung, kaca pecah berserakan — saya tidak langsung berpikir soal uang atau kebijakan atau siapa yang salah. Saya memikirkan mahasiswa yang data risetnya ada di dalam sana.
—
Ini bukan retorika. Dalam bidang ilmu tanah, data bukan sekadar file di komputer. Data bisa berupa sampel tanah dari petak percobaan yang sudah disiapkan selama berbulan-bulan. Isolat mikoriza yang dikembangbiakkan dengan prosedur steril yang sangat ketat. Catatan pengamatan yang ditulis tangan di lapangan dan belum sempat diketik. Kalau gedungnya terbakar sebelum semua itu diselamatkan, tidak ada cara untuk mengulanginya secara cepat — musim tanam sudah berganti, kondisi tanah sudah berubah, dan waktu tidak bisa diputar.
Saya pernah di posisi itu — bukan karena kebakaran, tapi karena satu kecelakaan kecil di lab pernah membuat sebagian sampel saya terkontaminasi dan harus diulang. Butuh tiga minggu dan banyak sekali energi hanya untuk kembali ke titik yang sama. Tiga minggu. Sekarang bayangkan ini terjadi bukan karena satu kecelakaan kecil, tapi karena satu malam yang tidak terkendali.
Kerugian Rp20 miliar yang disebut media itu baru menyentuh nilai materialnya. Yang belum terhitung adalah berapa skripsi yang harus dimulai ulang, berapa semesterkah keterlambatan wisuda yang akan muncul tanpa suara, dan berapa mahasiswa yang akan menanggung semuanya diam-diam karena tidak tahu harus mengadu ke mana.
—
Saya juga pernah menjadi aktivis. Aktif di himpunan jurusan, duduk di DPM Universitas, dan cukup lama menggeluti dinamika di HMI. Saya tahu betul bagaimana ekosistem pergerakan mahasiswa itu bekerja — termasuk bagian-bagian yang tidak indah. Solidaritas itu riil dan tidak bisa diremehkan. Ketika satu orang dari “pihak kamu” terluka, ada dorongan yang sangat kuat untuk berdiri di barisan, bahkan sebelum kamu tahu duduk perkaranya secara utuh.
Tapi saya juga belajar — seringkali dengan cara yang menyakitkan — bahwa energi itu bisa berubah arah kapan saja kalau tidak ada yang memegang kemudinya. Perbedaan antara aksi yang bermartabat dan kerusuhan yang memalukan sering kali hanya soal siapa yang berdiri paling depan pada momen paling kritis, dan apakah orang itu memilih untuk mendinginkan situasi atau ikut terbawa.
Yang terjadi di Darussalam dini hari 21 Mei itu — saya tidak tahu persis siapa yang mulai dan bagaimana kronologi pastinya, dan saya tidak akan berpura-pura tahu. Tapi laporan yang beredar cukup terang untuk dibaca: ada yang datang ke kawasan Fakultas Pertanian membawa bom molotov. Ada yang membakar. Ada yang menjarah. Itu bukan spontanitas. Itu keputusan.
Dan saya ingin bicara jelas soal ini: saya tidak sedang dalam posisi untuk mengajak berdamai. Belum. Tidak sebelum ada pertanggungjawaban yang nyata.
Saya tidak peduli dari fakultas mana pelakunya. Siapa pun yang terlibat dalam pembakaran itu — baik yang menyalakan api, yang membawa bahan bakarnya, maupun yang menggerakkan massa dari belakang — harus menghadapi konsekuensi hukum yang setimpal. Tidak ada diskon karena masih mahasiswa. Tidak ada keringanan karena “terbawa situasi.” Merugikan orang lain sebesar ini, menghancurkan kerja keras orang selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, bukan sesuatu yang bisa diselesaikan dengan “kuah beulangong”.
Proses pidana harus berjalan sampai tuntas. Sanksi akademik harus dijatuhkan tanpa pandang bulu. Dan siapa pun yang berperan sebagai aktor penggerak di balik kerusuhan ini — yang mungkin tidak ikut membakar tapi tangannya sama kotornya — harus diidentifikasi dan tidak boleh lolos hanya karena tidak tertangkap basah.
Kampus selama ini terlalu percaya bahwa mahasiswanya bisa menyelesaikan sendiri. Kadang memang bisa. Tapi malam itu tidak bisa diselesaikan sendiri — dan konsekuensinya ditanggung oleh orang-orang yang tidak ada hubungannya dengan konflik itu, termasuk mereka yang hanya pergi ke lab atau ke kebun percobaan untuk menyiram tanaman percobaan.
—
Yang paling berat dipikirkan sekarang bukan soal penyebab, melainkan soal apa yang menanti ke depan.
Laboratorium bisa dibangun ulang, tapi tidak semudah membangun dinding. Alat-alat analitik tertentu butuh waktu berbulan-bulan sejak pemesanan sampai bisa digunakan. Belum lagi proses kalibrasi, pembuatan SOP baru, dan melatih kembali pengguna lab dari awal. Saya punya rekan dosen yang pernah mengelola lab dari nol — katanya butuh dua tahun hanya untuk bisa menyebut lab itu “berfungsi normal,” dan itu dalam kondisi tidak ada gedung yang harus dibangun ulang.
Reputasi FP USK di mata calon mahasiswa baru juga tidak bisa dianggap enteng. Banyak keluarga yang mempertimbangkan keamanan kampus saat memilih tempat anak mereka kuliah. Satu insiden seperti ini bisa mempengaruhi keputusan yang tampaknya kecil tapi akumulasinya besar.
Tapi lebih dari semua itu, yang paling sering tidak terlihat adalah kondisi psikologis mahasiswa yang menanggung langsung akibatnya. Mereka yang kehilangan data riset tidak sekadar butuh laboratorium baru. Mereka butuh seseorang yang duduk bersama mereka dan membantu menyusun kembali langkah — bukan hanya prosedur administratif, tapi juga motivasi yang mungkin sudah ikut terbakar malam itu.
—
Saya menulis ini dari Bumi Teuku Umar (Meulaboh), cukup jauh dari Darussalam. Tapi saya tumbuh di kampus hijau itu, dan bagian dari saya masih merasa tinggal di sana — di lorong-lorong gedung lama itu, di lab biologi tanah yang kini entah kondisinya seperti apa.
Kepada siapa pun yang terlibat malam itu: Anda tidak hanya membakar gedung. Anda membakar tempat Pendidikan, penelitian banyak orang. Anda membakar hasil kerja keras yang tidak ternilai dengan uang dan tidak bisa dikembalikan begitu saja dengan kata maaf. Saya tidak tahu apakah Anda menyadari itu sewaktu menyulut api. Tapi kini Anda harus menanggungnya di depan hukum — dan saya berharap proses itu tidak berhenti di tengah jalan karena tekanan ini dan itu.
Dan kepada institusi — universitas, kepolisian, dan semua pihak yang kini memegang nasib perkara ini: jangan biarkan kasus ini menguap seperti asapnya. Jangan biarkan ini berakhir hanya dengan pernyataan di media dan mediasi yang tergesa-gesa demi menjaga nama baik kampus. Kampoeng 051 di Kopelma Darussalam itu punya nilai dan martabat yang harus dijaga — dan salah satu caranya adalah memastikan bahwa siapa pun yang merusaknya tidak bisa berjalan keluar dari sini tanpa konsekuensi.
Irham Maulana, S.P., M.Si. adalah dosen Fakultas Pertanian Universitas Teuku Umar dan alumnus Agroteknologi serta Magister Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala.

