ADVERTISEMENT
  • Redaksi
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
Jumat, April 17, 2026
  • Login
AsaKita.News
  • Beranda
  • Daerah
  • Nasional
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Pariwara
  • Siswa Menulis
  • Suara Guru
  • Suara Kita
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Daerah
  • Nasional
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Pariwara
  • Siswa Menulis
  • Suara Guru
  • Suara Kita
No Result
View All Result
AsaKita.News
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Daerah
  • Nasional
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Pariwara
  • Siswa Menulis
  • Suara Guru
  • Suara Kita
ADVERTISEMENT
Home Aceh

Hari Meugang Aceh: Antara Tradisi, Daging, dan Penguat Silaturahmi Keluarga

Meugang membangun ekonomi aceh

Redaksi by Redaksi
Februari 17, 2026 | 13 : 56
in Aceh, DISDIK Aceh, Suara Guru, Suara Kita
0
Hari Meugang Aceh: Antara Tradisi, Daging, dan Penguat Silaturahmi Keluarga
1.5k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Abdul Hamid, S.Pd., M.Pd

Hari Meugang Aceh bukan sekadar tradisi membeli dan memasak daging menjelang Ramadan atau hari raya.

Di balik hiruk-pikuk pasar dan aroma kuah beulangong yang mengepul dari dapur-dapur warga, Meugang menjadi simbol kuat silaturahmi keluarga, solidaritas sosial, dan identitas budaya masyarakat Aceh yang terus bertahan lintas generasi.

Tradisi Meugang telah mengakar sejak masa Kesultanan Aceh. Dalam berbagai catatan sejarah, kebiasaan menyembelih hewan dan membagikan daging kepada masyarakat disebut telah berlangsung sejak era pemerintahan pada abad ke-17. Saat itu, istana mendorong pembagian daging kepada rakyat sebagai bentuk kepedulian sosial sekaligus penguatan ukhuwah.

Hingga kini, tradisi tersebut tetap lestari di seluruh kabupaten/kota, mulai dari , , hingga . Meugang dilaksanakan tiga kali dalam setahun: menjelang Ramadan, Idul Fitri, dan Idul Adha. Momentum ini selalu ditandai dengan meningkatnya aktivitas di pasar tradisional dan lapak-lapak dadakan penjual daging.

ADVERTISEMENT

Tradisi yang Menggerakkan Ekonomi Rakyat

Sehari sebelum Meugang, harga daging sapi dan kerbau di sejumlah pasar di Aceh biasanya mengalami kenaikan. Namun hal itu tidak menyurutkan antusiasme warga. Bagi masyarakat Aceh, Meugang bukan soal harga, tetapi soal makna.

“Walaupun mahal, tetap beli walau satu kilo. Ini sudah adat,” ujar seorang warga di Sigli.

Secara ekonomi, Meugang juga memberi dampak signifikan. Peternak, pedagang sapi, tukang potong, hingga penjual bumbu merasakan lonjakan pendapatan. Perputaran uang meningkat tajam dalam waktu singkat, menciptakan efek ekonomi musiman yang dinantikan banyak pihak.

Pemerintah daerah biasanya turut memantau stabilitas harga dan distribusi hewan ternak agar kebutuhan masyarakat terpenuhi tanpa gejolak berlebihan.

Meugang dan Silaturahmi Keluarga

Lebih dari sekadar tradisi konsumsi daging, Meugang adalah momentum berkumpulnya keluarga. Anak-anak yang merantau berusaha pulang kampung. Saudara yang lama tak berjumpa menyempatkan diri duduk bersama di ruang makan.

Di banyak rumah, menu khas seperti kuah beulangong, rendang Aceh, atau masak merah menjadi sajian utama. Proses memasak pun sering dilakukan bersama, menghadirkan suasana gotong royong yang hangat.

ADVERTISEMENT

Tak sedikit pula keluarga yang membagikan sebagian daging kepada tetangga, kaum dhuafa, atau kerabat yang kurang mampu. Nilai berbagi inilah yang menjadikan Meugang memiliki dimensi sosial yang kuat.

Budayawan Aceh menyebut Meugang sebagai “ritual sosial” yang mempererat hubungan kekeluargaan. Tradisi ini menjadi ruang rekonsiliasi alami—tempat maaf dan doa saling dipertukarkan sebelum memasuki bulan suci.

Identitas Budaya yang Bertahan

Di tengah modernisasi dan perubahan gaya hidup, Meugang tetap eksis. Bahkan generasi muda Aceh kini mulai mengangkat tradisi ini melalui media sosial sebagai bagian dari kebanggaan identitas daerah.

Tradisi ini juga menjadi daya tarik budaya yang unik dibanding daerah lain di Indonesia. Jika di wilayah lain persiapan Ramadan identik dengan bersih-bersih rumah atau ziarah kubur, maka di Aceh, Meugang menjadi penanda kuat datangnya hari besar Islam.

Keberlanjutan Meugang menunjukkan bahwa kearifan lokal dapat hidup berdampingan dengan perkembangan zaman. Nilai kebersamaan, berbagi, dan penghormatan terhadap tradisi menjadi fondasi yang membuatnya tetap relevan.

Antara Tradisi dan Tantangan Zaman

Meski demikian, tantangan tetap ada. Kenaikan harga kebutuhan pokok, keterbatasan ekonomi sebagian masyarakat, hingga perubahan pola konsumsi menjadi isu yang perlu dicermati. Pemerintah dan tokoh masyarakat diharapkan terus menjaga esensi Meugang agar tidak sekadar menjadi rutinitas seremonial.

Bagi masyarakat Aceh, Meugang adalah warisan sejarah sekaligus jembatan emosional antargenerasi. Ia bukan hanya tentang daging di atas meja, tetapi tentang doa yang dipanjatkan bersama, tangan yang saling bersalaman, dan hati yang kembali dipersatukan.

Ketika azan Magrib berkumandang di hari Meugang, aroma masakan memenuhi rumah-rumah warga. Di sanalah tradisi dan silaturahmi berpadu—menguatkan jalinan keluarga dan meneguhkan identitas Aceh sebagai Serambi Mekkah yang kaya nilai budaya dan spiritualitas.

Penulis adalah Kacabdin Bireuen sedang kampanye literasi menulis dikalangan guru dan siswa.

54
Tags: budayaidentitasTradisi meugang
Previous Post

Malik Musa: Bantuan 1.500 Paket PWM Jatim untuk Korban Banjir Aceh Tiba, Bukti Soliditas Muhammadiyah untuk Kemanusiaan

Next Post

Buzzer Bayaran Mulai Serang Sekda Aceh, Nyak Dhin Tau siapa dalang di Belakang.

Redaksi

Redaksi

Next Post
Buzzer Bayaran Mulai Serang Sekda Aceh, Nyak Dhin Tau siapa dalang di Belakang.

Buzzer Bayaran Mulai Serang Sekda Aceh, Nyak Dhin Tau siapa dalang di Belakang.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ADVERTISEMENT
  • Redaksi
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber

Hak Cipta Asakita.news © 2024 MUSTAKIM

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Daerah
  • Nasional
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Pariwara
  • Siswa Menulis
  • Suara Guru
  • Suara Kita

Hak Cipta Asakita.news © 2024 MUSTAKIM

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In