Asakita.News ACEH SELATAN – Pemerintah Aceh melalui Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Aceh terus memacu langkah strategis untuk membawa pala Aceh Selatan menembus level nasional sebagai varietas unggul tanaman perkebunan.
Upaya tersebut dilakukan melalui kolaborasi Distanbun Aceh bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, serta Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Selatan.
Terbaru, tim gabungan turun langsung ke sejumlah kebun pala di Aceh Selatan untuk melakukan supervisi dan memastikan berbagai persyaratan teknis dalam proses pelepasan varietas terpenuhi.
Pelaksana Tugas Kepala Distanbun Aceh, Dr. Ir. Azanuddin Kurnia, S.P., M.P., IPU, ASEAN Eng, mengatakan perjuangan menjadikan pala Aceh Selatan sebagai varietas unggul nasional telah dirintis sejak 2018.
Menurutnya, proses tersebut merupakan perjalanan panjang yang membutuhkan dukungan berbagai pihak, terutama pemerintah dan para petani pala.
“Ini merupakan perjalanan dan perjuangan yang panjang. Alhamdulillah, dengan dukungan Bapak Gubernur, Wakil Gubernur, Bupati Aceh Selatan serta masyarakat, khususnya para petani pala, kita sudah sampai pada tahap ini,” ujar Azanuddin di Banda Aceh, baru-baru ini.
Ia menjelaskan, proses pelepasan varietas ditargetkan memasuki pra-sidang pada Oktober 2026 di Jakarta, kemudian dilanjutkan dengan sidang pelepasan pada November 2026 untuk menentukan kelayakan pala Aceh Selatan mendapatkan predikat varietas unggul nasional.
“Kami mengharapkan doa kita semua agar perjuangan panjang ini dapat berhasil. Kita ingin plasma nutfah yang kita miliki ini bisa berkembang dan memberikan manfaat dalam skala nasional,” katanya.
Punya Keunggulan Produksi dan Aroma Khas
Peneliti BRIN, Dr. Ismail, menyampaikan bahwa pala Aceh Selatan memiliki sejumlah karakteristik yang menjadi nilai penting dalam proses pengusulan varietas unggul nasional.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan selama bertahun-tahun, pala tersebut memiliki produktivitas tinggi, ukuran buah relatif besar, serta aroma khas pala yang dinilai berpotensi mendukung peningkatan kandungan minyak pala.
“Kami berharap pala ini dapat lolos pada sidang penentuan yang direncanakan berlangsung pada Oktober dan November tahun ini,” ujar Ismail.
Sementara itu, terkait pengembangan pala sambung yang selama ini dikembangkan petani di Aceh Selatan, tim pemulia masih melakukan penelitian lanjutan.
Penyambungan antara pala budidaya dengan pala hutan masih membutuhkan penguatan dari sisi sumber bahan dan metode pengembangannya. Salah satu pendekatan yang sedang dikaji adalah metode penyambungan dengan sistem dua kaki.
Pastikan Varietas Murni dan Terjamin
Kepala UPTD Balai Benih Hortikultura, Tanaman Pangan dan Perkebunan (BBHTPP) sekaligus Plt. Kepala UPTD Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB) Distanbun Aceh, Ahmad Zaini, S.P., M.Si, mengatakan tim baru saja menyelesaikan kunjungan lapangan di Aceh Selatan.
Menurutnya, kunjungan tersebut merupakan bagian penting dari tahapan akhir proses pelepasan varietas pala.
Tim supervisi melibatkan unsur BRIN, Tim Penilai Varietas Tanaman Perkebunan (TPVTP), Pengawas Benih Tanaman (PBT) Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian, Distanbun Aceh, Dinas Pertanian Aceh Selatan, serta para petani.
“Poin penting dalam proses pelepasan ini adalah jaminan kebenaran dan kemurnian varietas,” jelas Zaini.
Setelah proses pelepasan selesai, tahapan berikutnya akan diarahkan pada penentuan Pohon Induk Terpilih (PIT) pada lahan petani yang telah ditetapkan sebagai sumber varietas unggul.
“Pala Pucoek Raja”, Identitas Pala Unggul Aceh
Menariknya, pala Aceh Selatan yang tengah diperjuangkan untuk mendapatkan pengakuan nasional tersebut telah disepakati menggunakan nama “Pala Pucoek Raja”.
Zaini menjelaskan, nama tersebut dipilih setelah melalui pembahasan bersama antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, dan para petani. Dari puluhan alternatif nama yang diusulkan, akhirnya disepakati “Pala Pucoek Raja” sebagai identitas varietas pala Aceh Selatan.
“Nama Pala Pucoek Raja dipilih untuk menggambarkan bahwa pala tersebut merupakan pala unggul dari Aceh dan nantinya dapat dikenal di tingkat nasional,” ujar Zaini.
Jika seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, perjuangan yang dimulai sejak 2018 itu akan memasuki babak penting pada akhir 2026.
Bagi Aceh, pengakuan tersebut bukan sekadar soal nama varietas. Lebih dari itu, Pala Pucoek Raja diharapkan menjadi pintu masuk untuk memperkuat plasma nutfah lokal, meningkatkan nilai ekonomi komoditas pala, serta membuka peluang pengembangan pala Aceh Selatan ke pasar yang lebih luas.
Sumber: Asakita.News


