Asakita.News | Aceh Selatan – Masih segar dalam ingatan saat H. Baital Mukadis, S.E., ditunjuk sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Aceh Selatan tiga bulan lalu. Kala itu, riuh rendah keraguan publik sempat mewarnai ruang-ruang diskusi masyarakat. Memimpin daerah di masa transisi memang bukan perkara mudah, namun waktu perlahan memberikan jawabannya.
Tiga bulan memang bukan waktu yang lama. Namun dalam dunia birokrasi, rentang waktu ini cukup untuk melihat ke mana arah “kemudi” pemerintahan dibawa. Ibarat mengendarai mobil di jalan bergelombang, publik kini bisa menilai apakah sang sopir mampu menjaga ketenangan atau justru kehilangan kendali.
Bukan Sekadar ‘Penjaga Kursi’
Awalnya, banyak pihak mengira jabatan Plt hanyalah formalitas administratif untuk mengisi kekosongan. Namun, dalam 90 hari terakhir, terlihat gebrakan yang cukup signifikan. Beberapa persoalan yang sebelumnya stagnan mulai menunjukkan titik terang melalui pendekatan yang lebih taktis.
Setidaknya, ada tiga indikator utama yang menjadi tolok ukur masyarakat dalam menilai kepemimpinan singkat ini:
* Kehadiran di Lapangan: Intensitas turun langsung ke tengah warga, melampaui rutinitas di balik meja kerja.
* Akselerasi Kebijakan: Kemampuan mengambil keputusan cepat dan tepat di tengah situasi yang mendesak.
* Komunikasi Persuasif: Membangun relasi yang harmonis antara jajaran staf pemerintahan dan tokoh masyarakat.
“Dulu kami sempat sangsi, apakah perubahan bisa terjadi dalam waktu singkat? Ternyata pendekatannya berbeda; lebih banyak mendengar dan langsung eksekusi,” ujar salah satu tokoh masyarakat setempat.
Tantangan di Depan Mata
Tentu saja, tidak semua masalah menahun bisa tuntas dalam sekejap. Sejumlah Pekerjaan Rumah (PR) besar masih menanti di depan mata. Namun, skeptisisme yang muncul di awal masa jabatan perlahan mulai terkikis oleh langkah-langkah nyata.
Ujian yang sesungguhnya kini berada pada aspek konsistensi. Dengan kembalinya kepemimpinan definitif Kabupaten Aceh Selatan kepada Bupati H. Mirwan MS dan Wakil Bupati H. Baital Mukadis, S.E., tantangan ke depan dipastikan akan semakin berat.
Publik tidak lagi hanya menoleh pada proses masa lalu, melainkan menuntut hasil nyata dari setiap kebijakan yang akan diambil. Tiga bulan ini telah menjadi panggung pembuktian bahwa kepemimpinan bukan sekadar soal gelar atau durasi menjabat, melainkan tentang kemauan untuk bekerja dan melayani.

