Asakita.news | Banda Aceh – Direktur Aceh Sosial Development (ASD), Nasrul Sufi, S.Sos., M.M, menilai skema take home food (makanan dibawa pulang) sebagai solusi sosial paling relevan untuk memastikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap berjalan selama bulan suci Ramadhan tanpa mengganggu ibadah puasa masyarakat.
Menurut Nasrul Sufi, substansi utama MBG adalah pemenuhan hak dasar masyarakat terhadap gizi, terutama bagi anak-anak, lansia, dan keluarga rentan. Karena itu, perubahan metode distribusi selama Ramadhan tidak boleh menghilangkan tujuan utama program.
“Dapur negara tidak boleh berhenti hanya karena metode berubah. Yang penting makanan tetap sampai ke meja keluarga. Skema take home food adalah jalan tengah antara kebijakan publik dan nilai ibadah,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pendekatan ini sejalan dengan prinsip perlindungan sosial berkelanjutan (social protection continuum), di mana bantuan negara harus tetap hadir meski situasi sosial berubah. Dalam konteks Aceh, kebijakan ini juga relevan dengan budaya berbagi dan solidaritas keluarga yang kuat selama Ramadhan.
Nasrul Sufi menambahkan, MBG Ramadhan juga dapat menjadi instrumen stabilitas sosial, terutama di tengah kondisi pasca bencana banjir yang masih mempengaruhi sebagian wilayah Aceh. Pemenuhan gizi yang konsisten dinilai mampu menjaga ketahanan keluarga dan menurunkan beban sosial masyarakat.
“Kebijakan sosial yang baik bukan hanya soal program, tetapi soal empati. Saat masyarakat berpuasa, negara tetap hadir dengan cara yang lebih bijak dan menghormati nilai lokal,” tegasnya.
Aceh Sosial Development menyatakan kesiapan menjadi mitra pemerintah dalam pendampingan pelaksanaan MBG Ramadhan, khususnya pada aspek pendataan, distribusi, dan pengawasan berbasis komunitas agar program tetap tepat sasaran dan berkelanjutan.

