Asakita.news | PIDIE — Tradisi Meugang di Aceh kembali menghadirkan kisah kepedulian sosial dari seorang pengusaha muda, Muhammad Rizha atau yang akrab disapa Bos Gam. Pemilik SPBU Paru tersebut membagikan ribuan kantong daging Meugang kepada anak yatim, janda, fakir miskin, serta keluarga besar di empat desa, yakni Adan, Aron, Jurong Bale, dan Jumpho, menjelang Ramadhan 1447 Hijriah. Aksi sosial ini telah menjadi tradisi tahunan yang terus ia lakukan sebagai bentuk bakti kepada almarhumah ibundanya.
Sejak subuh, Bos Gam bersama karyawan dan keluarga telah memulai penyembelihan sapi secara gotong royong. Daging kemudian dikemas dalam ribuan kantong plastik untuk dibagikan kepada warga penerima. Tradisi berbagi Meugang tersebut tidak hanya menyasar masyarakat kurang mampu, tetapi juga keluarga besar dari garis ayah dan keluarga almarhumah ibundanya, sehingga kebahagiaan Meugang dapat dirasakan merata di lingkungan keluarga dan masyarakat sekitar.
Menurut Bos Gam, berbagi Meugang adalah wujud doa dan amal jariah untuk almarhumah ibunda tercinta. Ia meyakini kebahagiaan anak yatim dan kaum dhuafa saat Meugang merupakan berkah tersendiri bagi keluarga. “Biarlah anak-anak yatim dulu yang makan daging Meugang, baru kemudian kita memikirkan keluarga,” ungkapnya, mencerminkan prinsip kepedulian yang selalu ia pegang setiap tahun.
Warga penerima bantuan mengaku tradisi tersebut telah berlangsung lama dan sangat membantu masyarakat setiap menjelang Ramadhan. Mereka menyebut Bos Gam sebagai sosok dermawan yang tidak pernah absen berbagi Meugang kepada warga kurang mampu. Anak yatim bahkan mendapat perhatian khusus setiap hari besar, sehingga tradisi ini dinilai sebagai bentuk kasih sayang sosial yang nyata di tengah masyarakat.
Sosok Bos Gam dikenal rendah hati dan tidak pernah puas sebelum dapat bersentuhan langsung dengan masyarakat penerima. Bagi pengusaha muda ini, berbagi bukan soal jumlah, tetapi ketulusan. Tradisi Meugang yang ia jalankan menjadi contoh bahwa kepedulian sosial dapat diwariskan sebagai nilai keluarga, sekaligus mempererat silaturrahmi dan kebersamaan masyarakat Aceh dalam menyambut bulan suci Ramadhan.

