Oleh. Leni Mardani, S.Pd., MAP
Sebuah Bingkisan Kenangan untuk Bapak
“Pemimpin yang baik meninggalkan hasil kerja, tetapi pemimpin yang hebat meninggalkan jejak inspirasi di hati orang-orang yang pernah dipimpinnya.”
Kalimat itu terasa sangat tepat menggambarkan sosok Bapak Abdul Hamid, S.Pd., M.Pd. Bagi kami, beliau bukan sekadar pimpinan dalam struktur birokrasi pendidikan, melainkan sosok pembimbing yang mampu menghadirkan keteduhan, semangat, dan rasa kekeluargaan dalam setiap perjalanan pengabdian.
Di tengah dinamika dunia pendidikan Aceh yang penuh tantangan, beliau hadir bukan dengan jarak kekuasaan, melainkan dengan kedekatan hati. Ketegasan beliau tidak pernah melukai, justru menguatkan. Nasihatnya tidak terasa seperti perintah, melainkan dorongan tulus agar setiap orang mampu berkembang menjadi lebih baik.
Awal Perkenalan yang Membuka Cakrawala
Kenangan bersama beliau bermula dari sebuah perjalanan berharga ke Malaysia. Perjalanan itu bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan ruang pembelajaran yang membuka wawasan kami sebagai guru-guru di Aceh. Di balik kesempatan emas tersebut, ada ide besar dan visi jauh ke depan dari seorang Abdul Hamid.
Beliau percaya bahwa guru harus terus belajar dan melihat dunia lebih luas agar mampu menghadirkan pendidikan yang berkualitas bagi anak-anak bangsa. Berkat gagasan beliau, kami mendapat kesempatan menimba ilmu hingga ke negeri tetangga. Dari perjalanan itu, saya mulai memahami bahwa beliau adalah sosok yang sangat serius memikirkan masa depan pendidikan.
Beliau tidak hanya berbicara tentang perubahan, tetapi benar-benar menghadirkan jalan menuju perubahan itu sendiri.
Kepemimpinan yang Meneduhkan di Dataran Tinggi Gayo
Tiga tahun berselang, takdir kembali mempertemukan kami dalam ruang pengabdian yang lebih dekat. Saat itu, beliau dipercaya memimpin UPTD PPMG Wilayah Aceh Tengah dan Bener Meriah.
Di bawah kepemimpinannya, suasana kerja terasa berbeda. Ada ketegasan, tetapi juga ketulusan. Ada disiplin, namun tetap menghadirkan kenyamanan bagi siapa saja yang bekerja bersama beliau.
Saat itu saya masih mengabdi sebagai guru biasa di salah satu SMA di Kabupaten Bener Meriah. Meski demikian, beliau tidak pernah membedakan siapa yang berada di posisi tinggi ataupun rendah. Semua dirangkul dengan cara yang sama: dihargai, didengar, dan dibimbing.
Beliau sering mengingatkan bahwa pendidikan bukan hanya tentang administrasi dan rutinitas kerja, tetapi tentang membangun masa depan generasi. Kalimat-kalimat sederhana yang beliau sampaikan sering kali menjadi energi baru bagi kami untuk tetap semangat mengabdi.
Bimbingan yang Tak Pernah Terputus
Setahun kemudian, saya mendapatkan amanah sebagai Kasubbag Tata Usaha di Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Aceh Tengah. Jabatan itu tentu menjadi tanggung jawab besar yang awalnya membuat saya ragu terhadap kemampuan diri sendiri.
Namun di tengah kegelisahan itu, beliau tetap hadir memberi dukungan, meski saat itu telah berpindah tugas sebagai Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Sabang.
Jarak ternyata tidak pernah menjadi penghalang bagi beliau untuk terus membimbing. Beliau masih menyempatkan waktu untuk memantau perkembangan pekerjaan kami, memberikan arahan, motivasi, bahkan sekadar menanyakan keadaan.
Perhatian kecil seperti itulah yang membuat kami merasa dihargai.
Beliau bukan tipe pemimpin yang hanya hadir ketika membutuhkan laporan pekerjaan. Beliau hadir sebagai sosok yang benar-benar peduli terhadap perkembangan bawahannya, baik secara profesional maupun pribadi.
Sosok Pemimpin yang Membekas di Hati
Ada banyak pemimpin yang cerdas, tetapi tidak semua mampu menyentuh hati orang-orang di sekitarnya. Bapak Abdul Hamid adalah satu dari sedikit sosok yang mampu melakukan keduanya.
Beliau memimpin dengan keteladanan. Apa yang beliau minta kepada bawahan, terlebih dahulu beliau contohkan sendiri. Cara berbicara yang santun, sikap yang rendah hati, dan kesediaan mendengar pendapat orang lain menjadi pelajaran berharga bagi kami.
Pintu ruangannya selalu terbuka. Tidak ada sekat kaku antara atasan dan bawahan. Kami bebas berdiskusi, menyampaikan ide, bahkan mengeluhkan kesulitan pekerjaan tanpa rasa takut.
Di situlah kami merasakan bahwa beliau bukan sekadar pimpinan birokrasi, melainkan juga seorang guru kehidupan.
Bagi banyak orang, beliau bahkan telah menjadi sosok ayah dalam dunia kerja—menguatkan ketika lelah, menenangkan ketika ada masalah, dan memberi keyakinan ketika kami mulai kehilangan semangat.
Amanah Baru di Jalan Pengabdian
Kini, beliau kembali dipercaya mengemban amanah baru di Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU). Perjalanan pengabdian beliau memasuki babak yang berbeda, namun kami yakin nilai-nilai keteladanan yang selama ini beliau tunjukkan akan tetap menjadi cahaya di mana pun beliau berada.
Kami percaya, sosok seperti beliau akan selalu dibutuhkan: pribadi yang mampu menyatukan ketegasan dengan kasih sayang, kepemimpinan dengan ketulusan, serta ilmu dengan akhlak yang baik.
Doa tulus kami selalu menyertai setiap langkah pengabdian beliau.
Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan kesehatan, keberkahan, dan perlindungan dalam setiap tugas yang diemban. Semoga kehadiran beliau di tempat yang baru terus menjadi sumber inspirasi dan membawa manfaat bagi banyak orang.
Penutup
Waktu mungkin terus berjalan. Tempat tugas boleh saja berubah. Namun kenangan tentang ketulusan seorang pemimpin akan selalu tinggal di hati orang-orang yang pernah merasakan bimbingannya.
Ikatan kekeluargaan yang telah terbangun selama ini tidak akan pernah dipisahkan oleh jarak.
Karena sejatinya, seorang pemimpin hebat tidak hanya dikenang melalui jabatan yang pernah diemban, tetapi melalui jejak kebaikan yang ia tinggalkan dalam kehidupan banyak orang.
Terima kasih atas segala ilmu, bimbingan, dan ketulusan yang telah Bapak berikan.
Banda Aceh, Mei 2026
Leni Mardani, S.Pd., M.AP

