Oleh, Abdul Hamid
Tidak semua pelajaran datang dari ruang kelas. Ada kalanya pelajaran hidup justru lahir dari pertemuan sederhana, dari percakapan santai, bahkan dari secangkir kopi yang diminum bersama. Itulah yang saya rasakan ketika berkesempatan mendampingi Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, , saat berkunjung ke Kabupaten Bireuen.
Pertemuan itu tidak hanya meninggalkan kenangan, tetapi juga menghadirkan pelajaran tentang kesederhanaan, ketulusan, dan kerendahan hati seorang pemimpin.
Malam itu, setelah rombongan tiba di Bireuen, kami berkumpul di sebuah meja sederhana. Hadir beberapa pejabat kementerian, termasuk direktur jenderal, dua orang direktur, Kepala Dinas Pendidikan Aceh, serta Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Bireuen, . Saya pun ikut duduk bersama mereka.
Namun suasana yang tercipta jauh dari kesan formal atau kaku seperti yang sering dibayangkan ketika berada di dekat seorang menteri. Tidak ada jarak. Tidak ada sekat.
Di meja itu, kami hanya seperti sekumpulan sahabat yang sedang melepas lelah.
Kami minum kopi bersama.
Kami menikmati durian khas Bireuen bersama.
Kami menyantap pulut hijau yang legit.
Dan tentu saja, tidak lengkap rasanya tanpa semangkuk yang hangat.
Di tengah suasana santai itu, saya mulai membaca sosok Abdul Mu’ti lebih dekat. Cara beliau berbicara sangat santun. Penjelasannya cerdas, tetapi tetap sederhana. Sesekali beliau melontarkan candaan ringan yang membuat meja makan dipenuhi tawa.
Tidak ada kesan menjaga jarak seperti seorang pejabat tinggi negara. Justru yang terasa adalah keakraban.
Obrolan mengalir tanpa terasa. Dari pendidikan, pengalaman organisasi, hingga cerita-cerita ringan tentang Aceh. Kami larut dalam percakapan hingga tanpa sadar waktu terus berjalan.
Ketika saya melihat jam, ternyata sudah menunjukkan pukul 12 lewat sepuluh menit malam.
Kami semua terkejut. Seolah waktu berlalu begitu cepat ketika berada dalam suasana yang hangat dan bersahabat.
Namun pelajaran yang lebih dalam baru saya rasakan keesokan paginya.
Pukul 05.15 WIB, kami kembali bertemu. Kali ini di Masjid At-Taqwa untuk melaksanakan shalat Subuh berjamaah. Di sana, Abdul Mu’ti tidak hanya menjadi jamaah biasa. Beliau juga menyampaikan tausiah Subuh yang berlangsung hampir satu setengah jam.
Dengan bahasa yang jernih dan penuh hikmah, beliau berbicara tentang pendidikan, akhlak, dan pentingnya membangun generasi yang berilmu sekaligus beradab.
Setelah itu, tanpa banyak protokol dan tanpa mengubah penampilan sederhana yang masih berkain sarung, beliau melanjutkan agenda meresmikan SLB Vocational Muhammadiyah Bireuen.
Di momen itulah saya kembali menyaksikan sesuatu yang sangat sederhana, tetapi terasa begitu bermakna.
Saat akan menandatangani prasasti peresmian, tidak ada meja resmi yang disiapkan. Namun hal itu tidak menjadi persoalan. Dengan santai, beliau menandatangani prasasti tersebut di atas kap mobil dinas bernomor polisi RI 25.
Bagi sebagian orang, mungkin itu hanya hal kecil.
Tetapi bagi saya, itu adalah pelajaran besar.
Dalam hati saya berkata, “Seorang Menteri Pendidikan saja bersedia menandatangani prasasti di atas kap mobil, tanpa protokol berlebihan.”
Saat itu juga muncul pertanyaan di dalam batin saya: mengapa tidak banyak pejabat yang mampu menjaga kesederhanaan seperti ini?
Jabatan sering kali membuat seseorang berjarak dengan masyarakat. Protokol yang terlalu ketat kadang menciptakan tembok yang memisahkan pemimpin dari rakyatnya.
Namun pada diri Abdul Mu’ti, saya melihat sesuatu yang berbeda.
Beliau tetap ramah kepada siapa pun.
Tetap santun dalam bertutur.
Tetap sederhana dalam berpenampilan.
Dan tetap rendah hati dalam bersikap.
Padahal jabatan yang beliau emban adalah Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia—sebuah posisi strategis yang mengurusi masa depan pendidikan bangsa.
Malam singkat di Bireuen itu akhirnya menjadi pelajaran panjang bagi saya.
Bahwa kepemimpinan sejati tidak selalu ditunjukkan dengan kemewahan atau formalitas yang berlebihan. Justru sering kali ia hadir dalam sikap yang sederhana, dalam keramahan yang tulus, dan dalam kesediaan untuk tetap membumi.
Dari pertemuan itu saya belajar satu hal penting: semakin tinggi jabatan seseorang, seharusnya semakin rendah pula hatinya.
Dan pelajaran itu saya dapatkan langsung dari seorang menteri yang memilih tetap sederhana.
Penulis adalah Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Bireuen.

