ACEH, Asakita.news, — Ancaman munculnya lost generation atau generasi hilang di Aceh menjadi perhatian serius kalangan pakar pendidikan. Kondisi ini dipicu oleh dampak berulang bencana alam serta jejak konflik bersenjata yang dinilai telah merusak kualitas pendidikan secara signifikan di daerah tersebut.
Peringatan itu disampaikan oleh Anas M Adam pada 5 Maret 2026. Ia menegaskan bahwa gangguan terhadap sektor pendidikan di Aceh bukan hanya menyangkut kerusakan fisik sekolah, tetapi juga berimplikasi langsung pada mutu pembelajaran dan masa depan generasi muda.
Menurutnya, bencana alam yang terjadi berulang kali, termasuk banjir bandang dan tanah longsor pada akhir November 2025, telah berdampak luas terhadap infrastruktur pendidikan. Banyak sekolah rusak, aktivitas belajar terganggu, bahkan siswa terpaksa belajar dalam kondisi darurat.
“Ini bukan sekadar persoalan bangunan sekolah yang rusak, tetapi ancaman serius terhadap kualitas pendidikan yang bisa melahirkan lost generation,” ujar Anas dalam pernyataannya.
Ia menilai, jika pemulihan sektor pendidikan pascabencana tidak dilakukan secara cepat, terencana, dan terkoordinasi, maka Aceh berisiko kehilangan satu generasi yang tidak mendapatkan pendidikan optimal.
Lebih lanjut, Anas mengajak seluruh pihak, mulai dari pemerintah, lembaga pendidikan, hingga masyarakat, untuk bersatu dalam menyelamatkan masa depan anak-anak Aceh. Kolaborasi dinilai menjadi kunci agar proses pemulihan pendidikan berjalan efektif dan berkelanjutan.
Kondisi pendidikan di Aceh sendiri saat ini masih menghadapi berbagai tantangan berat. Selain kerusakan fasilitas, proses belajar mengajar juga terganggu akibat keterbatasan sarana, kondisi psikologis siswa pascabencana, serta belum meratanya dukungan pemulihan.
Situasi ini memperkuat kekhawatiran bahwa tanpa intervensi serius, kualitas sumber daya manusia Aceh ke depan dapat menurun drastis.
Karena itu, percepatan rehabilitasi sekolah, dukungan psikososial bagi siswa dan guru, serta kebijakan pendidikan yang adaptif terhadap kondisi bencana dinilai menjadi langkah mendesak untuk mencegah lahirnya generasi yang hilang di Tanah Rencong.

