BANDA ACEH — Aksi demonstrasi yang dilakukan Aliansi Gerakan Anak Muda Pembela Tanah Aceh (GAMPATA) di Kantor Gubernur Aceh memicu perhatian luas publik. Akademisi muda Aceh, Nuzulul Fahmi, S.P., M.Si., menilai kemunculan aksi tersebut secara tiba-tiba di tengah proses penanganan bencana memunculkan pertanyaan serius terkait urgensi dan latar belakang gerakan tersebut.
Menurut Nuzulul, kepemimpinan Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem) bersama jajaran pemerintah daerah dinilai telah menunjukkan kinerja cepat dan terukur dalam merespons bencana, termasuk memastikan bantuan sosial dan dukungan ekonomi masyarakat menjelang tradisi Meugang. Ia menyebut banyak masyarakat mengapresiasi respons pemerintah Aceh yang dinilai sigap dibanding sejumlah daerah lain.
Ia mempertanyakan motif di balik aksi yang dinilai tidak memiliki indikator jelas tersebut. Nuzulul bahkan menyinggung dugaan bahwa gerakan itu berpotensi ditunggangi kepentingan tertentu atau sekadar membangun opini. “Jika aksi muncul tanpa basis data dan momentum yang tepat, publik berhak bertanya apakah ini murni aspirasi atau ada aktor di baliknya,” ujarnya.
Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa isu bencana adalah persoalan kemanusiaan yang semestinya dijaga dari politisasi. Dalam konteks Aceh yang masih berada pada fase pemulihan pascabencana, narasi yang tidak proporsional dikhawatirkan dapat merusak kepercayaan publik serta mengganggu solidaritas sosial yang selama ini menjadi kekuatan masyarakat.
Nuzulul menegaskan bahwa demonstrasi merupakan hak demokratis setiap warga negara. Namun ia menekankan bahwa gerakan publik harus berorientasi pada kepentingan masyarakat luas, bukan kepentingan kelompok tertentu. Ia juga mengajak generasi muda dan organisasi sipil tetap kritis berbasis data serta menjaga etika gerakan sosial agar tidak memicu disinformasi.
Nuzulul berharap seluruh elemen masyarakat Aceh tetap menjaga kondusivitas daerah di bulan Ramadhan serta mendukung proses pemulihan bencana secara konstruktif, sehingga energi kolektif tetap terarah pada kepentingan kemanusiaan dan pembangunan Aceh.

