BANDA ACEH — ASAKITA.NEWS, Perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili di pada Selasa, 17 Februari 2026, berlangsung sederhana tanpa atraksi barongsai dan kemeriahan seperti tahun-tahun sebelumnya. Keputusan tersebut diambil sebagai bentuk empati dan solidaritas terhadap masyarakat Aceh yang tengah menghadapi dampak bencana alam.
Sebagaimana diberitakan , perayaan Imlek tahun ini dipusatkan di dengan suasana khidmat dan penuh doa. Panitia meniadakan berbagai hiburan, termasuk pertunjukan barongsai, sebagai bentuk kepedulian terhadap korban banjir dan longsor yang masih membutuhkan perhatian bersama.
Ketua Yayasan Vihara Dharma Bakti, , menyampaikan bahwa perayaan kali ini memang dirancang lebih sederhana. Menurutnya, langkah tersebut merupakan wujud rasa kebersamaan dengan masyarakat Aceh yang sedang berduka dan berjuang memulihkan kondisi pascabencana.
Ia menegaskan bahwa dana serta perhatian yang biasanya dialokasikan untuk kemeriahan perayaan dialihkan untuk kegiatan yang lebih bermanfaat dan bernilai sosial. Perayaan difokuskan pada ibadah dan doa bersama demi keselamatan serta pemulihan seluruh masyarakat Aceh.
Dalam pelaksanaan ibadah, umat yang hadir memanjatkan doa tidak hanya untuk keluarga dan komunitas, tetapi juga secara khusus bagi para korban bencana. Suasana perayaan berlangsung tenang, tertib, dan penuh harapan agar tahun baru membawa semangat kebangkitan dan kekuatan bagi seluruh masyarakat.
Yuswar berharap momentum Imlek 2577 Kongzili yang berada dalam naungan Shio Kuda Api dapat menjadi simbol energi, keberanian, serta optimisme baru. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus memperkuat solidaritas dan menjaga harmoni sosial di tengah tantangan yang dihadapi.
Perayaan Imlek 2026 di Banda Aceh menunjukkan bahwa makna Tahun Baru Tionghoa tidak semata identik dengan pesta dan pertunjukan budaya, tetapi juga tentang nilai kepedulian, empati, serta kebersamaan. Keputusan meniadakan barongsai menjadi pesan moral bahwa tradisi dapat menyesuaikan diri dengan kondisi sosial tanpa kehilangan esensi spiritualnya.
Langkah tersebut juga mencerminkan kuatnya toleransi dan keharmonisan antarumat beragama di Aceh. Di tengah suasana duka akibat bencana, perayaan yang lebih sederhana justru memperlihatkan kedewasaan sosial serta komitmen untuk saling menguatkan.
Dengan demikian, Imlek 2026 di Banda Aceh menjadi refleksi bahwa solidaritas dan empati adalah bagian penting dari perayaan. Tahun baru dirayakan bukan hanya dengan kegembiraan, tetapi juga dengan doa dan kepedulian terhadap sesama.

