Oleh: Abdul Hamid, S.Pd., M.Pd
Hari Meugang Aceh bukan sekadar tradisi membeli dan memasak daging menjelang Ramadan atau hari raya.
Di balik hiruk-pikuk pasar dan aroma kuah beulangong yang mengepul dari dapur-dapur warga, Meugang menjadi simbol kuat silaturahmi keluarga, solidaritas sosial, dan identitas budaya masyarakat Aceh yang terus bertahan lintas generasi.
Tradisi Meugang telah mengakar sejak masa Kesultanan Aceh. Dalam berbagai catatan sejarah, kebiasaan menyembelih hewan dan membagikan daging kepada masyarakat disebut telah berlangsung sejak era pemerintahan pada abad ke-17. Saat itu, istana mendorong pembagian daging kepada rakyat sebagai bentuk kepedulian sosial sekaligus penguatan ukhuwah.
Hingga kini, tradisi tersebut tetap lestari di seluruh kabupaten/kota, mulai dari , , hingga . Meugang dilaksanakan tiga kali dalam setahun: menjelang Ramadan, Idul Fitri, dan Idul Adha. Momentum ini selalu ditandai dengan meningkatnya aktivitas di pasar tradisional dan lapak-lapak dadakan penjual daging.
Tradisi yang Menggerakkan Ekonomi Rakyat
Sehari sebelum Meugang, harga daging sapi dan kerbau di sejumlah pasar di Aceh biasanya mengalami kenaikan. Namun hal itu tidak menyurutkan antusiasme warga. Bagi masyarakat Aceh, Meugang bukan soal harga, tetapi soal makna.
“Walaupun mahal, tetap beli walau satu kilo. Ini sudah adat,” ujar seorang warga di Sigli.
Secara ekonomi, Meugang juga memberi dampak signifikan. Peternak, pedagang sapi, tukang potong, hingga penjual bumbu merasakan lonjakan pendapatan. Perputaran uang meningkat tajam dalam waktu singkat, menciptakan efek ekonomi musiman yang dinantikan banyak pihak.
Pemerintah daerah biasanya turut memantau stabilitas harga dan distribusi hewan ternak agar kebutuhan masyarakat terpenuhi tanpa gejolak berlebihan.
Meugang dan Silaturahmi Keluarga
Lebih dari sekadar tradisi konsumsi daging, Meugang adalah momentum berkumpulnya keluarga. Anak-anak yang merantau berusaha pulang kampung. Saudara yang lama tak berjumpa menyempatkan diri duduk bersama di ruang makan.
Di banyak rumah, menu khas seperti kuah beulangong, rendang Aceh, atau masak merah menjadi sajian utama. Proses memasak pun sering dilakukan bersama, menghadirkan suasana gotong royong yang hangat.
Tak sedikit pula keluarga yang membagikan sebagian daging kepada tetangga, kaum dhuafa, atau kerabat yang kurang mampu. Nilai berbagi inilah yang menjadikan Meugang memiliki dimensi sosial yang kuat.
Budayawan Aceh menyebut Meugang sebagai “ritual sosial” yang mempererat hubungan kekeluargaan. Tradisi ini menjadi ruang rekonsiliasi alami—tempat maaf dan doa saling dipertukarkan sebelum memasuki bulan suci.
Identitas Budaya yang Bertahan
Di tengah modernisasi dan perubahan gaya hidup, Meugang tetap eksis. Bahkan generasi muda Aceh kini mulai mengangkat tradisi ini melalui media sosial sebagai bagian dari kebanggaan identitas daerah.
Tradisi ini juga menjadi daya tarik budaya yang unik dibanding daerah lain di Indonesia. Jika di wilayah lain persiapan Ramadan identik dengan bersih-bersih rumah atau ziarah kubur, maka di Aceh, Meugang menjadi penanda kuat datangnya hari besar Islam.
Keberlanjutan Meugang menunjukkan bahwa kearifan lokal dapat hidup berdampingan dengan perkembangan zaman. Nilai kebersamaan, berbagi, dan penghormatan terhadap tradisi menjadi fondasi yang membuatnya tetap relevan.
Antara Tradisi dan Tantangan Zaman
Meski demikian, tantangan tetap ada. Kenaikan harga kebutuhan pokok, keterbatasan ekonomi sebagian masyarakat, hingga perubahan pola konsumsi menjadi isu yang perlu dicermati. Pemerintah dan tokoh masyarakat diharapkan terus menjaga esensi Meugang agar tidak sekadar menjadi rutinitas seremonial.
Bagi masyarakat Aceh, Meugang adalah warisan sejarah sekaligus jembatan emosional antargenerasi. Ia bukan hanya tentang daging di atas meja, tetapi tentang doa yang dipanjatkan bersama, tangan yang saling bersalaman, dan hati yang kembali dipersatukan.
Ketika azan Magrib berkumandang di hari Meugang, aroma masakan memenuhi rumah-rumah warga. Di sanalah tradisi dan silaturahmi berpadu—menguatkan jalinan keluarga dan meneguhkan identitas Aceh sebagai Serambi Mekkah yang kaya nilai budaya dan spiritualitas.
Penulis adalah Kacabdin Bireuen sedang kampanye literasi menulis dikalangan guru dan siswa.

