PIDIE, — Perjalanan karier Abdul Hamid di dunia pendidikan Aceh menjadi potret panjang pengabdian seorang aparatur sipil negara (ASN) yang tumbuh dari ruang kelas hingga jajaran birokrasi pendidikan tingkat provinsi.
Abdul Hamid memulai kariernya sebagai guru SD Negeri Lae Ikan, Subulussalam pada tahun 1997 hingga 2000. Di daerah yang saat itu masih terbatas dari berbagai fasilitas pendidikan, ia mengabdikan diri mendidik anak-anak di pedalaman Aceh.
Setelah tiga tahun bertugas di Subulussalam, ia pindah ke Kabupaten Pidie dan menjadi guru di SD Negeri 2 Gigieng selama delapan tahun. Sebanyak sebelas tahun total waktunya dihabiskan sebagai guru sebelum dipercaya memimpin sekolah sebagai Kepala SD Negeri Tindeue selama dua tahun.
Kariernya di dunia birokrasi pendidikan mulai menanjak pada tahun 2010 saat dipercaya menjadi Kepala UPTD Pendidikan Kecamatan Padang Tiji dan Muara Tiga.
Selama menjadi pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Pidie, Abdul Hamid tercatat pernah memimpin tiga UPTD pendidikan, yakni Padang Tiji, Grong-Grong, dan Geulumpang Tiga.
Memasuki tahun 2014, Abdul Hamid bergabung di lingkungan Pemerintah Aceh di bawah Dinas Pendidikan Aceh. Selama sekitar 12 tahun mengabdi di tingkat provinsi, berbagai posisi strategis pernah dipercayakan kepadanya.
Ia pernah menjabat sebagai Kasubbag Tata Usaha PPMG Wilayah II Pidie dan Pidie Jaya. Selain itu, ia juga dipercaya menjadi Pelaksana Tugas (Plt) Kepala PPMG Wilayah V Aceh Tengah dan Bener Meriah selama enam bulan.
Tak hanya itu, Abdul Hamid kemudian dipercaya menjabat sebagai Plt Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Aceh Tengah dan Bener Meriah selama satu setengah tahun.
Kariernya terus berlanjut ketika ditunjuk menjadi Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kota Sabang selama dua setengah tahun sebelum akhirnya bertugas sebagai Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Bireuen selama empat setengah tahun.
Selama memimpin Cabang Dinas Pendidikan Bireuen, Abdul Hamid dikenal aktif mendorong penguatan literasi sekolah, kreativitas kepala sekolah dan guru, serta membangun sinergi pendidikan dengan berbagai pihak.
Kini, setelah puluhan tahun mengabdi di dunia pendidikan, Abdul Hamid melanjutkan pengabdiannya bersama para ulama di Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh.
Perjalanan panjang dari seorang guru di pelosok hingga pejabat pendidikan lintas wilayah Aceh itu menjadi bukti dedikasi dan konsistensi Abdul Hamid dalam membangun pendidikan Aceh selama hampir tiga dekade.

