• Redaksi
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
Rabu, November 4, 2026
  • Login
AsaKita.News
  • Beranda
  • Daerah
  • Nasional
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Pariwara
  • Siswa Menulis
  • Suara Guru
  • Suara Kita
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Daerah
  • Nasional
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Pariwara
  • Siswa Menulis
  • Suara Guru
  • Suara Kita
No Result
View All Result
AsaKita.News
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Daerah
  • Nasional
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Pariwara
  • Siswa Menulis
  • Suara Guru
  • Suara Kita
Home Internasional

23 Guru IGI Tembus Forum Pendidikan Global di Singapura, Siapkan Diri Hadapi Era AI

Admin by Admin
November 4, 2026 | 08 : 11
in Internasional, Pendidikan, Suara Guru
0
1.5k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

SINGAPURA, ASAKITA.NEWS – Guru Indonesia tidak boleh hanya menjadi penonton dalam perubahan pendidikan dunia.

Pesan itulah yang dibawa 23 guru anggota Ikatan Guru Indonesia (IGI) saat mengikuti Eduspace Global Event di Singapura, Selasa, 3 November 2026, menjelang perhelatan EDUtech Asia 2026.

Dipimpin langsung Wakil Ketua Umum Pengurus Pusat IGI, Dr. Jasmansyah, M.Pd., delegasi yang terdiri atas pengurus pusat dan anggota IGI dari berbagai daerah tersebut hadir untuk memperluas wawasan internasional, memperkuat kepemimpinan pendidikan, sekaligus memperdalam literasi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Kehadiran 23 guru ini bukan sekadar memenuhi undangan kegiatan di luar negeri. Lebih dari itu, partisipasi tersebut menjadi langkah strategis untuk membawa guru Indonesia masuk dalam percakapan global tentang masa depan pendidikan yang kini bergerak cepat seiring perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan.

Rangkaian kegiatan ini berlangsung menjelang EDUtech Asia 2026 yang dijadwalkan pada 4–5 November 2026 di Sands Expo, Singapura. Forum pendidikan internasional tersebut mempertemukan pendidik, pemimpin lembaga pendidikan, pengembang teknologi, serta penyedia solusi teknologi pendidikan (EdTech) dari berbagai negara.

AI Bukan Sekadar Alat, Guru Harus Mampu Mendesain Pembelajaran

Salah satu agenda penting yang diikuti delegasi IGI adalah AI in Education Leadership Workshop bertema From Evaluating AI to Redesigning Learning.

Workshop yang menghadirkan Dr. Jim Wagstaff tersebut mengupas bagaimana kecerdasan buatan tidak hanya dimanfaatkan sebagai alat bantu mengajar, tetapi juga dapat menjadi bagian dari upaya mengevaluasi, mengembangkan, dan mendesain ulang pengalaman belajar agar lebih sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

Para peserta diajak memahami bahwa pemanfaatan AI dalam pendidikan membutuhkan kepemimpinan yang kuat. Teknologi harus ditempatkan dalam kerangka perencanaan kurikulum, strategi pembelajaran, sistem asesmen, hingga peningkatan kompetensi guru.

Artinya, tantangan guru ke depan bukan sekadar mampu mengoperasikan berbagai aplikasi berbasis AI, melainkan juga memiliki kemampuan menentukan kapan, bagaimana, dan untuk tujuan apa teknologi tersebut digunakan.

Wakil Ketua Umum Pengurus Pusat IGI, Dr. Jasmansyah, M.Pd., menegaskan bahwa keterlibatan guru Indonesia dalam forum internasional merupakan bagian dari upaya membangun perspektif global dan meningkatkan kualitas profesi pendidik.

“Guru Indonesia harus berani mengambil bagian dalam percakapan pendidikan global. Perkembangan Artificial Intelligence tidak boleh hanya kita saksikan, tetapi harus kita pahami, kritisi, dan manfaatkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Kita perlu memastikan bahwa teknologi tetap berada dalam kendali nilai-nilai kemanusiaan dan tujuan pendidikan,” ungkap Jasmansyah.

Menurutnya, perkembangan AI telah membawa perubahan mendasar terhadap cara guru mengajar, peserta didik belajar, serta lembaga pendidikan membangun sistem pembelajaran.

Karena itu, guru tidak cukup hanya menguasai kecakapan digital. Kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, kolaborasi, dan pertimbangan etis juga harus terus diperkuat.

“AI bukan untuk menggantikan guru. Justru di tengah kemajuan teknologi, peran guru sebagai pendidik, pembimbing, inspirator, dan pembentuk karakter semakin penting. Tantangan kita adalah bagaimana menjadikan AI sebagai mitra dalam menciptakan pembelajaran yang lebih humanis, adaptif, dan bermakna,” tegasnya.

Jangan Sampai Guru Indonesia Hanya Menjadi Penonton

Jasmansyah juga mengingatkan bahwa pengalaman internasional tidak boleh berhenti sebagai pengalaman pribadi peserta. Pengetahuan, praktik baik, dan jejaring yang diperoleh harus ditularkan kepada guru-guru lain di berbagai daerah.

Dengan demikian, manfaat kegiatan tidak hanya dirasakan oleh 23 guru yang hadir di Singapura, tetapi juga dapat menjangkau komunitas pendidikan yang lebih luas melalui kegiatan berbagi pengetahuan dan pengembangan profesional berkelanjutan.

Ia berharap partisipasi IGI dalam EDUtech Asia 2026 menjadi salah satu pintu masuk untuk memperkuat posisi guru Indonesia dalam ekosistem pendidikan internasional.

“Jangan sampai guru Indonesia hanya menjadi penonton dalam transformasi pendidikan dunia. Kita harus menjadi bagian dari perubahan, membangun kolaborasi, berbagi praktik baik, dan menunjukkan bahwa guru Indonesia memiliki potensi untuk berkontribusi pada perkembangan pendidikan global,” ujarnya.

Selain mengikuti workshop, rombongan IGI juga melakukan kunjungan dan kegiatan kebersamaan di sejumlah lokasi di Singapura, termasuk kawasan Cathay. Kegiatan tersebut menjadi ruang untuk mempererat hubungan antarguru sekaligus memperkaya pengalaman lintas budaya.

Transformasi Pendidikan Dimulai dari Guru

Partisipasi 23 guru IGI dalam agenda internasional ini memberikan pesan bahwa pengembangan profesi guru tidak boleh berhenti pada ruang kelas, seminar, ataupun kegiatan rutin organisasi.

Guru perlu terus membuka diri terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan praktik pendidikan dari berbagai negara. Sebab, perubahan zaman menuntut pendidik untuk tidak hanya mempertahankan cara-cara lama, tetapi juga berani berinovasi tanpa kehilangan jati diri sebagai pendidik.

Pada akhirnya, secanggih apa pun teknologi yang dikembangkan, keberhasilan pendidikan tetap ditentukan oleh kualitas manusia yang menggunakannya.

Dari Singapura, delegasi IGI membawa satu pesan penting: guru Indonesia harus terus belajar, berani berinovasi, memperluas kolaborasi, dan mengambil peran dalam menentukan arah masa depan pendidikan dunia.

Sebab, masa depan pendidikan tidak cukup hanya dibangun dengan teknologi canggih, tetapi membutuhkan guru yang memiliki wawasan global, kepemimpinan kuat, dan hati yang tetap berpihak kepada peserta didik.

ASAKITA.NEWS – Guru Hebat, Pendidikan Bermartabat.

33
Tags: EdutechGuru igi
Previous Post

WAGUB ACEH DAMPINGI MENDAGRI TINJAU DAMPAK BENCANA BANJIR DI PIDIE JAYA

Next Post

Polres Aceh Selatan Tetapkan dan Tahan Tersangka Dugaan Korupsi Dana Desa Gunung Pulo.

Admin

Admin

Next Post

Polres Aceh Selatan Tetapkan dan Tahan Tersangka Dugaan Korupsi Dana Desa Gunung Pulo.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Redaksi
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber

Hak Cipta Asakita.news © 2024 MUSTAKIM

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Daerah
  • Nasional
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Pariwara
  • Siswa Menulis
  • Suara Guru
  • Suara Kita

Hak Cipta Asakita.news © 2024 MUSTAKIM

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In