Asakita.news | BANDA ACEH — Komitmen SMA Negeri 3 Banda Aceh dalam membangun pendidikan berwawasan global kembali ditegaskan melalui kunjungan resmi perwakilan Japan Foundation, Selasa (11/2/2026). Kunjungan ini menjadi langkah strategis dalam memperluas kolaborasi budaya dan pendidikan antara Aceh dan Jepang.
Rombongan disambut langsung oleh Kepala SMAN 3 Banda Aceh, Muhibbul Khibri, S.Pd., M.Pd., bersama jajaran guru dan para siswa. Suasana penyambutan berlangsung hangat dan penuh antusiasme, mencerminkan semangat keterbukaan sekolah terhadap kerja sama internasional.
Dalam sambutannya, Muhibbul Khibri menyampaikan bahwa hubungan SMAN 3 Banda Aceh dengan Jepang bukanlah hal baru. Ia mengungkapkan pengalamannya mengikuti pelatihan manajemen kepemimpinan di Jepang yang memberinya perspektif luas tentang sistem pendidikan yang disiplin, tertata, dan berbasis karakter.
“Banyak nilai positif yang kami pelajari dari Jepang, terutama soal kedisiplinan, manajemen sekolah, dan pembentukan karakter siswa. Itu menjadi motivasi bagi kami untuk terus berbenah,” ungkapnya.
Ia menambahkan, SMAN 3 Banda Aceh secara konsisten membangun atmosfer global di lingkungan sekolah. Salah satunya dengan penggunaan tiga bahasa — Bahasa Jepang, Bahasa Inggris, dan Bahasa Aceh — dalam berbagai kegiatan resmi sebagai simbol kolaborasi internasional yang tetap berpijak pada identitas lokal.
Perwakilan Japan Foundation, Wakabayashi Sato, dalam kesempatan tersebut menyampaikan empati dan duka cita atas musibah bencana alam yang sempat melanda Aceh beberapa waktu lalu. Ia berharap masyarakat Aceh dapat bangkit dan semakin kuat.
Menurutnya, kunjungan ini bukan hanya membawa misi memperkenalkan budaya Jepang, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran bersama.
“Kami melihat potensi besar pada siswa-siswi di sini. Semangat dan disiplin mereka sangat mengesankan. Kami ingin menjalin persahabatan yang saling menguatkan,” ujarnya.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murtalamuddin, menyambut baik inisiatif kolaborasi tersebut. Ia menilai kerja sama lintas negara seperti ini sangat penting dalam membentuk generasi muda yang adaptif, terbuka, dan siap bersaing di tingkat global.
Kegiatan ditutup dengan sesi interaksi budaya yang berlangsung penuh keakraban. Kunjungan ini diharapkan menjadi pintu masuk bagi program-program kolaboratif lainnya, termasuk pertukaran pelajar dan penguatan pembelajaran bahasa, demi mencetak generasi Aceh yang berwawasan dunia namun tetap berakar pada nilai-nilai kearifan lokal.



