Asakita.news | Banda Aceh – Langkah konkret Partai Perjuangan Aceh (PPA) dalam membantu korban banjir di sejumlah wilayah Aceh kini mulai dirasakan langsung oleh masyarakat. Tidak hanya fokus pada bantuan logistik darurat, PPA juga menunjukkan kepedulian terhadap keberlanjutan pendidikan anak-anak terdampak dengan menyalurkan alat tulis serta mendirikan sekolah darurat di lokasi pengungsian.
Sejak dari awal bencana, Pengurus dan relawan PPA telah turun langsung ke lapangan untuk mendistribusikan bantuan berupa sembako, air bersih, selimut, serta kebutuhan dasar lainnya. Bantuan tersebut disalurkan secara bertahap ke wilayah-wilayah yang paling parah terdampak banjir, dengan mengutamakan lansia, anak-anak, dan kelompok rentan.
Ketua Umum Partai Perjuangan Aceh, Prof Adjunct Marniati, S.E, M.Kes dalam keterangannya menyampaikan bahwa penanganan banjir tidak cukup hanya dengan bantuan jangka pendek. Menurutnya, keberlangsungan aktivitas pendidikan anak-anak korban banjir harus menjadi perhatian bersama agar mereka tidak kehilangan hak belajar meski berada dalam kondisi darurat.
“Selain logistik, kami juga akan menyalurkan alat tulis sekolah dan membangun sekolah darurat di beberapa titik pengungsian. Anak-anak tetap harus belajar, meski dalam keterbatasan,” ujarnya.
Sekolah darurat yang didirikan PPA bertempat di Aceh Tamiang, sekolah darurat dilengkapi dengan papan tulis, buku pelajaran, alat tulis. Kehadiran fasilitas ini disambut antusias oleh para orang tua dan anak-anak, yang selama berminggu-minggu terpaksa menghentikan kegiatan belajar akibat banjir.
PPA menegaskan komitmennya untuk terus mengawal penanganan pascabencana, termasuk mendorong percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi wilayah terdampak banjir. Partai lokal tersebut juga mengajak semua pihak, baik pemerintah maupun elemen masyarakat lainnya, untuk bergandengan tangan membantu pemulihan Aceh dari bencana banjir.
Dengan langkah nyata yang menyentuh langsung kebutuhan warga, kehadiran Partai Perjuangan Aceh dalam penanganan banjir dinilai tidak hanya bersifat simbolik, tetapi benar-benar memberikan dampak bagi masyarakat terdampak.[Redaksi]


