Asakita.news | Relawan — Ada kisah yang jarang ditulis dan nyaris tak terdengar. Ia tidak lahir dari ruang rapat atau podium kehormatan, melainkan dari tepian sungai berlumpur, dari tali seadanya yang ditarik dengan tangan gemetar warga yang bermandikan peluh , dari langkah yang dipaksakan tetap maju meski harus melawan arus. Di sanalah jiwa kemanusiaan menunjukkan wajahnya yang paling jujur.
Rompi yang dikenakan relawan bukan lambang pangkat. Ia bukan simbol kuasa. Ia hanya penanda kesiapan bahwa seseorang bersedia berdiri di depan untuk membantu dan menghadapi risiko agar bantuan dapat di hantarkan ke para penyintas. Ketika banjir dan longsor memutus jalan dan hutan atau sungai menjadi satu-satunya akses, rompi itulah yang berbicara lebih lantang daripada seragam apa pun.
Foto ini menangkap satu momen penting: relawan menyeberangi sungai dengan tali sling sederhana tanpa pengaman. Tidak ada jaminan. Tidak ada perlindungan selain keyakinan, doa, dan semangat untuk membantu sesama. Air mengalir deras, batu licin, dan satu kesalahan kecil bisa berakibat fatal. Namun mereka tetap berdiri di tengah arus, memilih menjadi penopang bagi orang lain.
Dalam tanggap darurat bencana Aceh, relawan tidak menghitung jam kerja. Mereka menghitung siapa dan di mana lagi penyintas yang belum mendapatkan bantuan. Anak-anak, orang tua, dan kelompok rentan menjadi alasan mengapa langkah terus diambil. Lelah hadir, takut pasti ada, tetapi tanggung jawab moral jauh lebih besar daripada rasa itu.
Seragam sering kali identik dengan prosedur dan batasan. Ia penting dalam sistem. Namun dalam situasi darurat, yang paling dibutuhkan adalah keberanian untuk hadir dan ketulusan untuk membantu.
Rompi relawan mengajarkan bahwa kemanusiaan tidak selalu datang dari kelengkapan, melainkan dari keberpihakan. Dari keputusan untuk berkata: saya ada di sini, pegang tangan saya.
Ketika rompi itu basah dan kotor, ia menyimpan cerita yang tak pernah masuk laporan. Cerita tentang tangan yang bergantung menerobos arus, tentang kaki yang menapak batu licin, tentang hati yang memilih tetap tinggal di tengah bahaya bersama para penyintas. Di situlah rompi relawan menjadi lebih berharga dari seragam karena ia dipakai bukan untuk menunjukkan jabatan, melainkan untuk menyelamatkan.
Aceh mengenal rompi itu. Warga pedalaman mengingatnya. Dan kita, yang melihat foto ini, seharusnya belajar: kemanusiaan sejati sering bekerja dalam diam, tanpa atribut megah, hanya dengan keberanian untuk berdiri dan semangat untuk terus berkontribusi.
Oleh: Nasrul Sufi
Pemerhati Sosial


