ASAKITA NEWS, ACEH TAMIANG – Di sela-sela peninjauan program Seumegleh Sikula Dinas Pendidikan Aceh di SMA Swasta Al Washliyah, Aceh Tamiang, Kepala Bidang Sarana dan Prasarana (Kabid Sarpras) Disdik Aceh, Dahlawi, bertemu langsung dengan seorang ibu korban banjir bandang yang rumahnya masih tergenang air sejak lebih dari sebulan lalu.
Pertemuan tersebut terjadi pada Sabtu, 3 Januari 2026, di sebuah lorong sempit yang dipenuhi lumpur dan sampah sisa banjir bandang Aceh.
Dahlawi mengaku tidak menyangka akan bertemu langsung dengan warga terdampak di lokasi yang sedang dilakukan pembersihan sekolah.
“Awalnya saya tidak menyangka bisa bertemu dengan seorang ibu korban banjir di lorong sempit penuh lumpur dan sampah bawaan banjir bandang ini,” ujar Dahlawi kepada Acehsiana.com.
Dahlawi menjelaskan, dirinya diajak Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Bireuen, Abdul Hamid, untuk memastikan penyebab genangan air yang masih terjadi di lingkungan SMA Al Washliyah meski proses pembersihan telah berjalan.
“Setelah kami cek, ternyata drainase tersumbat. Menariknya, saluran drainase ini persis berada di lorong rumah Mak Salamah,” kata Dahlawi, menyebut nama samaran demi menjaga privasi warga.
Saat bertemu, Dahlawi sempat menyapa ibu tersebut. Namun suasana haru tak terelakkan ketika Mak Salamah langsung menangis dan memintanya masuk ke dalam rumah.
“Saya beri salam, lalu Mak Salamah langsung menangis dan meminta saya masuk ke rumahnya,” lanjut Dahlawi.
Di dalam rumah, Mak Salamah mencurahkan kesedihannya. Ia mengaku sudah lebih dari sebulan rumahnya tergenang air setinggi lutut orang dewasa, tanpa ada perhatian atau bantuan berarti.
Padahal, menurutnya, jika drainase di depan rumah dibersihkan, air yang menggenang di luar dan di dalam rumah langsung surut.
“Yang paling menyedihkan, sudah sebulan lebih rumahnya belum ada yang peduli. Padahal saat drainase dibersihkan, air langsung hilang,” tutur Dahlawi menirukan keluhan Mak Salamah.
Sambil menahan tangis, Mak Salamah memohon bantuan agar air tidak lagi menggenang sehingga ia dan keluarganya dapat membersihkan rumah dan kembali hidup normal.
“Tolong bantu kami supaya air ini tidak tergenang lagi, agar kami bisa membersihkan rumah,” ucap Mak Salamah dengan suara bergetar.
Mendengar keluhan tersebut, Dahlawi yang didampingi Kacabdin Bireuen Abdul Hamid berjanji akan mencari solusi dan berkoordinasi dengan pihak terkait untuk menangani persoalan drainase di lingkungan tersebut.
Pertemuan singkat namun penuh haru itu menjadi pengingat bahwa di balik program pembersihan sekolah melalui Seumegleh Sikula, masih banyak warga terdampak banjir yang membutuhkan perhatian dan penanganan serius agar dapat bangkit dari bencana.


