Editorial
Air mata kami jatuh bercampur lumpur. Bukan sekali ini, bukan pula yang terakhir. Setiap musim hujan tiba, Aceh kembali tenggelam—dan setiap kali itu pula rakyat kecil yang menjadi korban. Sementara para penyebab kesengsaraan justru tersenyum nyaman dari balik rumah dan gedung mewah mereka.
Rumah-rumah kami tertimbun lumpur. Sawah dan kebun rusak tak bersisa. Harta yang dikumpulkan bertahun-tahun hanyut dalam hitungan jam. Malam kami lalui di pengungsian, tanpa cahaya, tanpa kepastian, dengan perut lapar dan hati yang remuk. Namun di sisi lain, mereka tidur nyenyak di ruangan ber-AC, terlindung dari dingin dan gelap yang kami rasakan.
Jembatan yang menjadi urat nadi kehidupan kami putus diterjang banjir. Untuk menyeberang, kami mengandalkan seutas tali, mempertaruhkan nyawa demi bisa bekerja atau mencari bantuan. Anak-anak ketakutan, orang tua gemetar. Sementara itu, para pemilik kuasa melayang di udara dengan pesawat terbang, melaju di jalan layang dengan mobil-mobil mewah, seolah penderitaan kami hanyalah angka statistik.
Sudah terlalu lama banjir ini disebut sebagai “bencana alam”. Padahal, ini adalah bencana keserakahan. Hutan ditebang tanpa kendali. Gunung digunduli tanpa nurani. Daerah resapan air dihancurkan atas nama investasi dan keuntungan. Alam dipaksa diam, hingga akhirnya murka. Dan ketika murka itu datang, rakyat kecil yang dijadikan tameng.
Kami tidak hanya kehilangan rumah. Kami kehilangan martabat. Dari warga yang bekerja dan berdikari, kami dipaksa menjadi pengungsi. Dari rakyat yang ingin hidup tenang, kami dijadikan pengemis bantuan. Semua itu akibat kebijakan yang abai dan pengawasan yang pura-pura tak tahu.
Pertanyaannya sederhana: sampai kapan Aceh harus menanggung dosa segelintir orang?
Sampai kapan tangis rakyat dianggap angin lalu?
Dan sampai kapan perusakan lingkungan dibiarkan tanpa pertanggungjawaban?
Banjir Aceh adalah cermin. Ia memantulkan wajah buruk tata kelola yang gagal melindungi rakyatnya. Jika hari ini air mata korban masih belum cukup untuk membuka mata, maka jangan heran bila suatu hari nanti, alam berbicara lebih keras—dan saat itu, penyesalan mungkin sudah terlambat.
Ini bukan sekadar ratapan. Ini adalah peringatan.


