Tim Pengabdian USK Berdayakan Desa Lambadeuk Lewat Hilirisasi Produk Madu Berbasis Green Economy
ACEH BESAR – Tim pengabdian Universitas Syiah Kuala (USK) bersama Universitas Iskandar Muda (UNIDA) terus mendorong penguatan ekonomi masyarakat Desa Lambadeuk, Kabupaten Aceh Besar, melalui pengembangan usaha perlebahan berbasis green economy dan hilirisasi produk madu.
Program pemberdayaan yang dilaksanakan pada 2026 tersebut merupakan bagian dari Skema Pemberdayaan Berbasis Kewilayahan, Ruang Lingkup Pemberdayaan Desa Binaan. Kegiatan ini didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Program dipimpin Ir. Mujiburrahmad, SP., M.Si., dari Fakultas Pertanian USK selaku Ketua Tim Pengabdi. Fokus utama kegiatan diarahkan pada optimalisasi potensi perlebahan masyarakat sekaligus meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk madu Desa Lambadeuk.
Dorong Peningkatan Produksi Madu
Desa Lambadeuk dinilai memiliki potensi besar untuk pengembangan usaha perlebahan. Selain menghasilkan madu sebagai produk ekonomi, keberadaan lebah juga memiliki manfaat ekologis karena berperan dalam membantu proses penyerbukan tanaman.
Namun, kapasitas produksi madu masyarakat masih menjadi salah satu tantangan. Jumlah koloni yang tersedia belum mampu menghasilkan volume madu secara optimal dan berkelanjutan.
Untuk menjawab persoalan tersebut, tim pengabdian melakukan penambahan koloni lebah dengan target meningkatkan kapasitas produksi madu hingga 50 persen dibandingkan kondisi sebelumnya.
Penambahan koloni tersebut tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan kuantitas produksi, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun sistem usaha perlebahan yang lebih produktif, berkelanjutan, dan memiliki prospek ekonomi.
Kualitas Madu Diperkuat Lewat SOP
Peningkatan produksi juga diikuti dengan upaya memperbaiki kualitas produk. Masyarakat Desa Lambadeuk mendapatkan pendampingan dalam penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) panen dan pascapanen madu.
SOP tersebut mencakup proses panen, penyaringan, penanganan, penyimpanan hingga pengemasan. Salah satu aspek yang menjadi perhatian adalah pengendalian kadar air madu.
Kadar air yang terkendali menjadi salah satu indikator penting untuk menghasilkan madu berkualitas serta memiliki daya simpan yang lebih optimal. Dengan penerapan standar tersebut, produk madu masyarakat diharapkan memiliki kualitas yang lebih konsisten.
“Peningkatan produksi harus diikuti dengan peningkatan kualitas. Karena itu, masyarakat tidak hanya didorong untuk menghasilkan madu lebih banyak, tetapi juga bagaimana menghasilkan madu dengan standar kualitas yang lebih baik sehingga memiliki nilai jual yang lebih tinggi,” ujar Ir. Mujiburrahmad, SP., M.Si.
Siapkan Madu Premium Single Origin
Tidak berhenti pada peningkatan produksi dan kualitas, program ini juga mendorong hilirisasi melalui pengembangan produk madu premium dengan konsep Single Origin.
Konsep tersebut akan menonjolkan identitas asal madu dari Desa Lambadeuk sehingga produk memiliki karakter dan cerita yang lebih kuat. Hal ini sekaligus menjadi pembeda dengan produk madu yang beredar di pasar secara umum.
Melalui hilirisasi, madu masyarakat tidak lagi diposisikan sebatas komoditas mentah. Produk diarahkan menjadi komoditas bernilai tambah yang memiliki identitas, standar mutu, kemasan, serta positioning pasar yang lebih baik.
Pengembangan madu premium Single Origin juga diharapkan mampu membuka akses pasar yang lebih luas sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat yang terlibat dalam usaha perlebahan.
Perlebahan Dorong Ekonomi Hijau
Pengembangan usaha perlebahan di Desa Lambadeuk memiliki keterkaitan erat dengan konsep green economy atau ekonomi hijau.
Budidaya lebah dapat menjadi aktivitas ekonomi masyarakat yang tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan. Keberadaan lebah memiliki peran penting dalam ekosistem, terutama dalam membantu proses penyerbukan tanaman.
Karena itu, pengembangan usaha perlebahan diharapkan mampu menciptakan hubungan yang saling menguntungkan antara peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pelestarian lingkungan.
Pendekatan tersebut sejalan dengan prinsip green economy, yakni mendorong pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat tanpa mengabaikan fungsi serta keberlanjutan sumber daya lingkungan.
Dari Potensi Desa Menjadi Produk Unggulan
Program pemberdayaan tahun 2026 ini diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun rantai nilai produk perlebahan Desa Lambadeuk secara lebih terintegrasi.
Mulai dari penambahan koloni, peningkatan kapasitas produksi, penerapan SOP panen dan pascapanen, pengendalian kualitas hingga pengembangan madu premium Single Origin merupakan rangkaian kegiatan yang diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah produk masyarakat.
Ir. Mujiburrahmad menegaskan, keberhasilan program tidak semata-mata diukur dari peningkatan jumlah produksi madu, tetapi juga dari kemampuan masyarakat dalam mengelola usaha perlebahan secara lebih profesional.
“Harapannya, masyarakat Desa Lambadeuk mampu memiliki produk madu yang tidak hanya berkualitas, tetapi juga memiliki identitas dan daya saing. Dengan hilirisasi, nilai ekonomi yang dihasilkan dari potensi desa dapat dinikmati lebih besar oleh masyarakat,” tambahnya.
Melalui kolaborasi perguruan tinggi, masyarakat, dan berbagai pihak terkait, Desa Lambadeuk diharapkan mampu berkembang sebagai salah satu sentra pengembangan produk perlebahan yang mengedepankan inovasi, nilai tambah, keberlanjutan lingkungan, dan kemandirian ekonomi masyarakat.
Program tersebut sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam menghadirkan inovasi yang menjawab kebutuhan masyarakat secara langsung, sekaligus mendorong potensi lokal menjadi produk unggulan yang memiliki daya saing.


