ASAKITA.NEWS | BANDA ACEH – Plt. Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Kadistanbun) Aceh, Dr. Ir. Azanuddin Kurnia, SP, MP, memanfaatkan kesempatan bertemu Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian untuk melaporkan perkembangan pemulihan sektor pertanian Aceh, khususnya rehabilitasi lahan persawahan yang terdampak kerusakan ringan dan sedang.
Pertemuan yang berlangsung di Hotel Aston pada 24 Juni 2026 itu terjadi secara tidak terencana karena keduanya kebetulan menginap di hotel yang sama. Sebelumnya, Azanuddin juga sempat bertemu dengan Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono di lokasi yang sama.
Dalam pertemuan singkat tersebut, Azanuddin menjelaskan perkembangan program rehabilitasi dan rekonstruksi sektor pertanian pascabencana, terutama percepatan pemulihan lahan sawah yang menjadi perhatian pemerintah pusat.
Menurut Azanuddin, saat kunjungan kerja di Banda Aceh beberapa waktu lalu, Mendagri yang juga Ketua Satgas Pemulihan dan Rehabilitasi-Rekonstruksi (PRR) sempat menekankan pentingnya percepatan pemulihan lahan pertanian agar petani dapat segera kembali berproduksi.
“Saya menyampaikan terima kasih kepada Bapak Mendagri karena adanya penambahan penanganan lahan sawah rusak sedang seluas lebih dari 9.000 hektare. Dengan demikian, seluruh lahan sawah yang mengalami kerusakan sedang kini dapat ditangani melalui program pemerintah pusat yang dikoordinasikan Kementerian Pertanian bersama pemerintah provinsi dan kabupaten/kota,” ujar Azanuddin.
Dalam kesempatan itu, Tito Karnavian kembali menegaskan agar seluruh proses pemulihan dipercepat sehingga masyarakat, khususnya petani, dapat kembali menjalankan aktivitas dan kehidupan secara normal.
Pesan serupa juga disampaikan Wamentan Sudaryono saat menerima laporan perkembangan rehabilitasi dan rekonstruksi sektor pertanian Aceh. Wamentan meminta seluruh pihak terus menjaga semangat kerja dan fokus pada percepatan program pemulihan demi membantu petani yang terdampak.
“Intinya adalah percepatan. Jangan merasa lelah, tetap semangat membantu petani kita,” kata Azanuddin mengutip arahan Wamentan.
Selain bertemu Mendagri dan Wamentan, Azanuddin juga melakukan diskusi dengan Ismail Rasyid mengenai strategi pengembangan sektor pertanian dan perkebunan Aceh. Dalam diskusi tersebut dibahas upaya meningkatkan produksi komoditas unggulan dan strategis agar mampu memenuhi kebutuhan pasar nasional hingga ekspor.
Menurut Ismail Rasyid, Aceh memiliki potensi pertanian dan perkebunan yang sangat besar yang perlu dikelola secara maksimal melalui penguatan produksi, hilirisasi, dan pemanfaatan pelabuhan-pelabuhan di Aceh sebagai jalur distribusi dan ekspor.
“Aceh memiliki potensi yang luar biasa. Potensi tersebut harus digarap secara maksimal agar mampu memberikan nilai tambah bagi petani dan perekonomian daerah,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya meningkatkan etos kerja, daya juang, dan mental pantang menyerah dalam mengembangkan usaha pertanian maupun perkebunan.
“Sudah saatnya petani dan pekebun tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan sendiri, tetapi mulai bergerak ke arah agribisnis dengan memanfaatkan peluang pasar yang lebih luas, termasuk pasar ekspor,” pungkasnya.


