Banda Aceh, Asakita.news — Ikatan Guru Indonesia (IGI) Aceh melaksanakan Focus Group Discussion (FGD) yang berlangsung di Permata Hati Hotel pada Minggu, 8 Maret 2026. Kegiatan ini dihadiri oleh dewan pembina, dewan kehormatan, dewan pakar IGI Aceh, Kepala Balai Guru dan Tenaga Kependidikan Aceh (BGTK Aceh), serta sejumlah tamu undangan.
Ketua IGI Aceh, Khairul Zami, M.Pd dalam sambutan sekaligus pemantik diskusi menyoroti rendahnya tingkat literasi yang berdampak pada hasil Tes Kompetensi Akademik (TKA) tingkat SMA di Aceh yang baru-baru ini dirilis. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi perhatian serius bagi seluruh pemangku kepentingan pendidikan, termasuk organisasi profesi guru.
Ia menegaskan bahwa IGI sebagai organisasi profesi guru memiliki peran strategis dalam mendorong peningkatan kompetensi guru, khususnya dalam penguatan literasi yang berdampak langsung terhadap kualitas pembelajaran di kelas.
Sementara itu, Kepala BGTK Aceh, Muhammadi, memaparkan sejumlah program lembaganya yang akan dilaksanakan pada tahun 2026. Program tersebut antara lain pelaksanaan diklat BCKS bagi sekitar 1.200 kepala sekolah yang saat ini masih berstatus Pelaksana Tugas (Plt) di Aceh, pendidikan guru SD untuk pengajaran bahasa Inggris, peningkatan kompetensi guru Bimbingan dan Konseling, program Matematika Gembira, pelatihan STEM, serta peningkatan mutu tenaga administrasi sekolah.
Dalam diskusi tersebut, Dewan Pembina IGI Aceh, Tabrani Yunis, menyoroti pentingnya peran Dinas Pendidikan Aceh untuk lebih fokus pada akar persoalan pendidikan. Ia berharap IGI dapat bersinergi dalam meningkatkan kualitas literasi guru karena kemampuan literasi guru memiliki korelasi langsung dengan kemampuan literasi peserta didik.
Pandangan serupa juga disampaikan oleh Dewan Kehormatan IGI Aceh, Khairuddin Budiman. Ia menilai bahwa penguatan kemampuan berpikir kritis (critical thinking) harus dibangun di ruang-ruang kelas. Menurutnya, praktik drilling soal semata tidak akan menyelesaikan akar persoalan literasi peserta didik.
“Yang dibutuhkan adalah pembelajaran yang mampu membangun kemampuan berpikir kritis sekaligus kemampuan analisis peserta didik,” ujarnya.
Sementara itu, Dewan Pembina IGI Aceh lainnya, Samsul Bahri, menyoroti kondisi organisasi IGI yang menurutnya sedang berada pada fase fear zone, di mana sebagian guru merasa ragu dan belum maksimal dalam mengambil peran. Padahal, menurutnya, kader IGI di Aceh telah banyak yang memiliki kapasitas dan kualitas untuk memberi dampak nyata bagi dunia pendidikan.
Ia menegaskan bahwa khittah IGI adalah peningkatan kompetensi guru, sehingga organisasi tersebut diharapkan segera bergerak menuju growth zone sebagai organisasi yang terus bertumbuh dan memberi kontribusi nyata bagi peningkatan mutu pendidikan di Aceh.
Pada sesi penutup, akademisi Universitas Syiah Kuala sekaligus Kepala Lembaga Bahasa Kampus Jantong Hatee Rakyat Aceh, Kismullah, menekankan pentingnya pembelajaran yang mengedepankan kedalaman materi. Menurutnya, proses pembelajaran seharusnya tidak hanya berorientasi pada pencapaian target kurikulum semata, tetapi juga mampu menghadirkan pembelajaran yang lebih bermakna bagi peserta didik.
FGD ini diharapkan menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan kolaborasi antara organisasi profesi guru, pemerintah, dan akademisi dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan di Aceh, khususnya dalam penguatan literasi dan kompetensi guru.

