BIREUEN – Asakita.news, — Kepala Cabang Dinas (KCD) Pendidikan Wilayah Kabupaten Bireuen secara resmi membuka kegiatan Penyusunan Model Kurikulum Satuan Pendidikan (KSP) Kebencanaan Tahun 2026 yang berlangsung di ruang pengajaran SMKN 1 Peusangan, Senin (2/3/2026).
Kegiatan strategis ini diikuti oleh guru mata pelajaran IPAS, guru Bahasa Indonesia, guru Bahasa Inggris, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, serta Pengawas Pembina sekolah.
Program tersebut menghadirkan langsung Tim Pusat Kurikulum dan Pembelajaran Kementerian Pendidikan, yakni Eskawati Musyarofah Bunyamin, S.Si., M.Pd., dan Annisa Eva Nurabia, S.Pd., sebagai narasumber utama.
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, mulai 2 hingga 3 Maret 2026, dibuka oleh Kepala KCD Pendidikan Wilayah Bireuen yang diwakili oleh Kepala Seksi Manajemen Mutu GTK, Yusnita, SE Ak., M.Pd.
Dalam sambutannya, Yusnita menyampaikan rasa syukur atas hadirnya tim pusat yang secara langsung turun ke Aceh, khususnya Kabupaten Bireuen, untuk mendampingi sekolah dalam penyusunan kurikulum kebencanaan.
“Kami sangat bersyukur karena penyusunan kurikulum kebencanaan ini mendapat perhatian serius dari pusat. Kehadiran tim secara langsung tentu menjadi penguatan bagi sekolah dalam merancang pembelajaran yang relevan dengan kondisi daerah yang rentan bencana,” ujarnya.
Ia berharap kurikulum kebencanaan yang disusun tidak hanya menjadi dokumen administratif, tetapi benar-benar dapat diimplementasikan secara kontekstual dalam proses pembelajaran di sekolah.
Sementara itu, Kepala SMKN 1 Peusangan, Faisal, S.T., M.Pd., menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada narasumber yang telah memberikan pendampingan langsung kepada para guru dalam merancang Kurikulum Satuan Pendidikan berbasis kebencanaan.
Menurutnya, penyusunan kurikulum merupakan langkah awal yang sangat penting dalam membangun kesiapsiagaan peserta didik terhadap risiko bencana. Namun demikian, implementasi kurikulum juga membutuhkan dukungan sarana praktik pembelajaran.
“Kurikulum yang telah disusun tentu tidak akan berjalan maksimal tanpa didukung ketersediaan alat praktik bagi siswa. Karena itu, kami berharap narasumber dapat turut menyampaikan kepada kementerian agar pengadaan alat praktik kebencanaan bagi siswa dapat segera direalisasikan,” ungkap Faisal.
Pada sesi materi, narasumber dari Tim Pusat Kurikulum dan Pembelajaran, Eskawati Musyarofah Bunyamin menjelaskan bahwa penyusunan KSP harus berangkat dari rasionalitas serta karakteristik masing-masing satuan pendidikan.
“Dalam menyusun KSP, sekolah perlu melihat kekhasan dan kebutuhan lingkungannya. Kurikulum tidak harus seragam, justru boleh diberi identitas sesuai visi sekolah, misalnya KSP Gemilang atau nama lain yang mencerminkan karakter sekolah,” jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa berbagai praktik baik yang telah dilakukan sekolah selama ini perlu diakomodasi dalam dokumen KSP agar kurikulum benar-benar hidup dan sesuai dengan realitas pembelajaran.
“Masukkan seluruh praktik baik yang sudah berjalan di sekolah ke dalam KSP. Kurikulum bukan sesuatu yang baru dibuat dari nol, tetapi penguatan terhadap apa yang sudah dilakukan secara nyata,” tambah Eskawati.
Melalui kegiatan ini, diharapkan lahir model Kurikulum Satuan Pendidikan Kebencanaan yang mampu membentuk peserta didik lebih tangguh, adaptif, serta memiliki literasi mitigasi bencana sejak di bangku sekolah. Upaya ini sekaligus menjadi bagian dari penguatan pendidikan kontekstual di Aceh sebagai wilayah yang memiliki pengalaman panjang menghadapi berbagai bencana alam.

