Asakita.news | Banda Aceh – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) Fraksi Partai Aceh, Nazaruddin, S.I.Kom, yang akrab disapa Tgk Agam, menolak tegas rencana penggunaan anggaran rehabilitasi rumah anggota dewan periode 2024–2029 sebesar Rp50 miliar.
Mantan Wali Kota Sabang yang kini duduk sebagai anggota parlemen mewakili Daerah Pemilihan (Dapil) I Banda Aceh, Aceh Besar, dan Kota Banda Aceh itu menilai, penggunaan anggaran tersebut belum tepat dilakukan saat ini, mengingat kondisi Aceh yang masih diliputi duka akibat bencana.
“Saya pribadi menolak dana untuk rehab rumah anggota dewan untuk saat ini. Ada hal yang jauh lebih urgen yang harus kita lihat bersama,” ujar Tgk Agam, Kamis (29/1/2026).
Menurutnya, hingga kini masih banyak masyarakat Aceh yang belum bisa kembali hidup normal, bahkan sebagian masih bertahan di tenda-tenda pengungsian.
Di saat rakyat baru mulai “menghirup napas segar” pascabencana, para wakil rakyat justru dituntut menunjukkan empati dan kepekaan sosial.
“Kita harus menjaga masa depan anak-anak Aceh. Sekolah-sekolah mereka masih banyak yang perlu diperbaiki, dan penghidupan yang layak bagi korban bencana harus menjadi prioritas utama,” tegasnya.
Tgk Agam juga secara khusus menyoroti kondisi Aceh Tamiang, yang disebutnya sebagai salah satu daerah paling parah terdampak bencana. Hingga saat ini, kata dia, masih banyak gampong atau desa yang terisolir dan belum mendapatkan perhatian maksimal dari pemerintah.
Aceh
“Masih banyak wilayah yang secara nyata membutuhkan kehadiran negara. Di sinilah dituntut kepekaan kita sebagai wakil rakyat terhadap nasib masyarakat Aceh yang sedang tertimpa musibah,” tambahnya.
Terkait rumah dinas Ketua DPRA yang disebut telah direhabilitasi, Tgk Agam menyatakan tidak ingin memperpanjang polemik atas hal yang sudah selesai.
Namun, untuk rencana rehabilitasi rumah dewan yang belum dilakukan, ia meminta agar anggarannya ditunda dan tidak dialokasikan terlebih dahulu.
“Kalau rumah Ketua DPRA yang sudah direhab, ya sudahlah, itu sudah selesai “yang ka, ka keuh yang goh bek le” saya selaku anggota dewan merasa malu saat kita hidup mewah tapi rakyat Aceh masih dalam ngos-ngosan kita dahulukan kepentingan rakyat dulu,” pungkasnya.
Sumber: theacehpost.

