Asakita.news | Banda Aceh – Relawan Muhammadiyah melalui Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) terus memperluas bantuan kemanusiaan hingga wilayah terisolir di Kabupaten Aceh Timur, mereka hadir untuk memberikan layanan medis (kesehatan) spesialistik.
Dua hari lalu, Tim MDMC melalui Emergency Medical Team (EMT) Muhammadiyah berhasil menjangkau wilayah terisolir di Dusun Sarah Raja, Desa Sah Raja, serta Dusun Sijuk, Desa Sijudo, Kecamatan Pante Bidari, untuk memberikan layanan medis spesialistik kepada warga terdampak banjir.
Pemimpin Tim EMT Muhammadiyah, dr M Irfan Rizaldy mengatakan, perjalanan menuju lokasi pengungsian di Dusun Sarah Raja menuntut perjuangan fisik dan logistik yang tidak ringan. Mereka harus melewati medan yang tidak dapat dijangkau kendaraan biasa.
“Kami hadir untuk memastikan bahwa warga di pelosok, terdalam sekalipun tidak merasa sendirian dalam menghadapi musibah ini,” kata dr M Irfan Rizaldy, Sabtu (16/1/2025).
Mobilisasi tim dilakukan secara estafet, diawali dengan penggunaan kendaraan gardan ganda untuk melintasi jalan berlumpur, kemudian dilanjutkan dengan motor trail dengan dukungan komunitas IMTRAX untuk menembus jalur sempit dan licin.
Karena akses darat terputus oleh sungai dan genangan air, tim kemudian menggunakan perahu untuk menyeberang sebelum melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menanjak menuju tenda-tenda pengungsian warga.
Meski berada di lokasi terpencil dengan fasilitas yang sangat terbatas, MDMC tetap menghadirkan layanan medis yang memadai, termasuk pemeriksaan oleh dokter spesialis kulit dan dokter umum.
“Kehadiran tim disambut haru oleh warga yang telah berminggu-minggu mengalami keterbatasan akses layanan kesehatan,” tuturnya.
Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 86 pasien tercatat menerima penanganan medis dengan keluhan yang didominasi penyakit kulit akibat buruknya sanitasi pascabanjir, infeksi saluran pernapasan, hipertensi, serta kelelahan ekstrem. Tim juga memberikan obat-obatan dan edukasi kesehatan kepada para pengungsi.
“Kondisi di Dusun Sarah Raja cukup memprihatinkan karena letaknya yang benar-benar terputus. Namun, melihat semangat dari 86 pasien yang kami layani hari, rasa lelah tim terbayar lunas,” imbuh Dr M Irfan.
Layanan medis tersebut merupakan bagian dari misi besar MDMC DIY di Aceh Timur yang melibatkan tenaga profesional dari RS PKU Muhammadiyah Sleman, RS AMC, PKU Bantul, PKU Gombong, serta Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta.
Hingga saat ini, respons MDMC telah melayani lebih dari 900 warga di Aceh Timur dan akan terus menyiagakan personel. Rotasi tim direncanakan berlangsung pada 19 Januari 2026 guna memastikan layanan kesehatan dan pendampingan psikososial di daerah terisolir tetap berjalan hingga masa pemulihan berakhir.
Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) merupakan lembaga penanggulangan bencana Persyarikatan Muhammadiyah yang bergerak dalam kegiatan mitigasi, kesiapsiagaan, tanggap darurat, serta rehabilitasi pascabencana di seluruh Indonesia.
Sementara itu, Juru Bicara Posko Bencana Banjir dan Longsor Aceh, Murthalamuddin mengapresiasi sikap proaktif dan kepedulian berbagai lembaga yang telah ikut membantu memberikan layanan kesehatan kepada masyarakat terdampak, termasuk dari Muhammadiyah.
Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah dengan berbagai lembaga sangat krusial, mengingat karakteristik bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor membutuhkan penanganan yang komprehensif.
“Kolaborasi bersama seperti inilah yang sangat dibutuhkan untuk mempercepat proses pemulihan pascabencana di Aceh,” kata Murthalamuddin.
Untuk diketahui, Pemerintah Aceh melalui Dinas Kesehatan dan Health Emergency Operational Center (HEOC) terus melakukan pemantauan harian, penguatan layanan kesehatan di lapangan.
Koordinasi lintas sektor juga terus dilakukan pemerintah Aceh untuk memastikan kesehatan masyarakat korban bencana tetap terjaga, khususnya bagi kelompok rentan seperti bayi, balita, ibu hamil, lansia, dan penyandang disabilitas di wilayah terdampak. [Admin]

