Asakita.news | Banda Aceh – Pemerintah Aceh melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) terus berupaya memastikan pendampingan kelompok rentan dalam hal ini perempuan dan anak terdampak bencana, mereka tidak akan menghadapi situasi ini sendirian.
Kepala DP3A Aceh, Meutia Juliana mengatakan, bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Aceh tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga beban berat bagi kelompok rentan, khususnya perempuan dan anak.
“Di tengah situasi kehilangan, ketidakpastian, dan trauma yang sangat dalam, mereka membutuhkan kehadiran negara yang melindungi dan memastikan rasa aman,” kata Meutia Juliana, Senin (12/1/2026).
Juliana menyampaikan, pascabencana, perempuan dan anak menghadapi risiko berlapis, mulai dari gangguan psikologis, keterbatasan akses layanan, hingga potensi kekerasan dan penelantaran.
Karena itu, sebagai bentuk kepedulian dan tanggung jawab, DP3A Aceh telah, sedang dan terus melakukan berbagai langkah-langkah pendampingan terhadap mereka.
Di antaranya, berkoordinasi secara intensif dengan kabupaten/kota, UPTD PPA, serta jejaring layanan untuk memastikan layanan perlindungan tetap berjalan meski dalam kondisi darurat.
Kemudian, memberikan pendampingan dan dukungan psikososial, termasuk bantuan spesifik perempuan dan anak bersama instansi terkait serta beberapa lembaga CSO (masyarakat sipil), guna membantu perempuan dan anak pulih dari trauma akibat bencana.
Serta, memastikan akses layanan rujukan pendampingan dan psikologis, melalui UPTD PPA bersama mitra layanan di daerah, khususnya di wilayah terdampak bencana .
“Kita juga terus memastikan bahwa setiap fasilitas hunian memfasilitasi ruang ramah perempuan dan anak dalam bentuk pos Sapa (sahabat perempuan dan anak),” tuturnya.
Ia menegaskan, DP3A Aceh berkomitmen untuk terus memastikan bahwa perempuan dan anak terdampak bencana tidak hanya selamat secara fisik, tetapi juga terlindungi hak-haknya dan mendapatkan dukungan proses pemulihan.
Dalam kesempatan ini, Meutia mengajak seluruh elemen masyarakat khususnya di Aceh untuk benar-benar saling peduli dan melaporkan apabila terdapat perempuan dan anak yang terdampak bencana membutuhkan bantuan serta perlindungan.
“Penanganan kelompok rentan akan terus dilakukan secara terintegrasi, berkelanjutan, dan berperspektif gender serta perlindungan. Untuk itu, mari bersama-sama saling peduli terhadap perempuan dan anak terdampak bencana Aceh,” pungkas Meutia Juliana.
Sementara itu, Juru Bicara Posko Bencana Banjir dan Longsor Aceh, Murthalamuddin menegaskan bahwa pemerintah Aceh terus memperhatikan pemulihan segala aspek kehidupan masyarakat yang terdampak bencana.
Semua pihak, baik pemerintah daerah, pusat serta unsur masyarakat diharapkan dapat membantu menangani segala permasalahan di lapangan, termasuk pemulihan psikologis korban terdampak bencana, terutama perempuan dan anak.
“Berbagai langkah pemulihan terus dilakukan. Semoga semua kita dapat terus bersatu bahu membahu membantu memulihkan Aceh yang lebih baik, dan kembali bangkit,” tutup Murthalamuddin. []


