MERAUKE, ASAKITA.NEWS — Tanah Merauke menjadi arena uji varietas padi IPB 9G. Tim Ekspedisi Patriot IPB University bersama petani dan pemangku kepentingan pertanian mulai menanam IPB 9G di Distrik Semangga, Kawasan Transmigrasi Salor, Kabupaten Merauke, Sabtu (19/9/2026).
Penanaman ini menjadi demplot perdana IPB 9G di Papua Selatan, sekaligus langkah awal untuk melihat kemampuan varietas tersebut beradaptasi dengan kondisi lahan Merauke.
Kegiatan melibatkan Tim Ekspedisi Patriot IPB dari Tanah Miring, Semangga dan Kurik bersama PJ Swasembada Pangan Kabupaten Merauke, BRMP Papua Selatan, LO, Brigade Pangan, Gapoktan, PPL, Brigade Pengendalian Kebakaran Hutan serta para petani.
Perwakilan Ketua Tim Ekspedisi Patriot IPB, Dr. Muhammad Syukur Sarfat, mengatakan demplot ini diharapkan memberi manfaat bagi pengembangan pertanian Merauke.
“Semoga dengan adanya demplot ini bisa bermanfaat ke depannya bagi pertanian di Merauke, khususnya untuk menguji lapang varietas IPB 9G yang memang belum pernah ditanam di daerah Papua.”
Menurut Syukur, demplot bukan sekadar tempat menanam benih. Lahan tersebut menjadi ruang pengujian untuk melihat pertumbuhan, adaptasi, kebutuhan perawatan hingga produktivitas IPB 9G.
Pengamatan juga diharapkan terus dilakukan setelah masa penugasan Tim Ekspedisi Patriot IPB berakhir. Petani dan PPL setempat diharapkan melanjutkan perawatan sekaligus mencatat perkembangan tanaman hingga panen.
Bukan Sekadar Tumbuh, Tapi Harus Berproduksi
PJ Swasembada Pangan Kabupaten Merauke, Dr. Oeng Anwarudin, menyambut positif uji lapang tersebut.
Ia berharap IPB 9G mampu memberikan hasil yang baik saat panen.
“Tentunya kita berharap pada saat panen semoga produksinya bisa tinggi.”
Oeng juga menekankan pentingnya perawatan tanaman dan dukungan input produksi dalam penerapan sistem PM-AAS.
Dengan demikian, keberhasilan demplot tidak hanya bergantung pada varietas, tetapi juga pengelolaan lahan, perawatan dan dukungan teknologi pertanian sejak tanam hingga panen.
Kepala BRMP Papua Selatan juga menyambut baik pelaksanaan uji lapang tersebut. Menurutnya, pengujian di lapangan penting untuk melihat kesesuaian varietas dengan karakteristik lingkungan setempat.
Merauke Jadi Laboratorium Lapangan
Demplot IPB 9G di Salor menjadi ruang belajar bersama bagi akademisi, pemerintah, penyuluh, Brigade Pangan dan petani.
Petani dapat melihat langsung perkembangan varietas. Akademisi memperoleh data lapangan, sementara pemerintah dan penyuluh mendapatkan bahan evaluasi untuk melihat peluang pengembangan lebih lanjut.
Karena itu, perhatian berikutnya bukan hanya pada apakah IPB 9G bisa tumbuh, tetapi apakah mampu beradaptasi, menghasilkan produktivitas yang baik dan layak dikembangkan di Merauke.
Jawabannya akan terlihat dalam beberapa bulan ke depan, seiring pertumbuhan tanaman hingga musim panen.
Dari satu petak demplot di Kawasan Transmigrasi Salor, ujian IPB 9G di tanah Papua Selatan resmi dimulai.
Kini, tanah Merauke yang akan memberikan jawabannya.
ASAKITA.NEWS


