• Redaksi
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
Senin, November 2, 2026
  • Login
AsaKita.News
  • Beranda
  • Daerah
  • Nasional
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Pariwara
  • Siswa Menulis
  • Suara Guru
  • Suara Kita
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Daerah
  • Nasional
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Pariwara
  • Siswa Menulis
  • Suara Guru
  • Suara Kita
No Result
View All Result
AsaKita.News
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Daerah
  • Nasional
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Pariwara
  • Siswa Menulis
  • Suara Guru
  • Suara Kita
Home Aceh

USK Kembangkan Pertanian Terpadu di Ie Masen Kayee Adang, Dorong Kemandirian Pangan dan Ekonomi Warga

Admin by Admin
September 18, 2026 | 13 : 50
in Aceh
0
1.5k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Asakita.News | BANDA ACEH – Keterbatasan lahan bukan alasan untuk berhenti bertani. Universitas Syiah Kuala (USK) mendorong masyarakat Gampong Ie Masen Kayee Adang, Kota Banda Aceh, mengembangkan sistem pertanian terpadu berbasis kearifan lokal untuk memperkuat kemandirian pangan sekaligus membuka peluang ekonomi warga.

Program pemberdayaan masyarakat tersebut mengusung tema “Pengembangan Sistem Pertanian Terpadu Berbasis Kearifan Lokal untuk Penguatan Kemandirian Ekonomi Gampong Ie Masen Kayee Adang” dan didukung melalui pendanaan PTNBH Universitas Syiah Kuala.

Program ini hadir sebagai respons terhadap sejumlah persoalan yang dihadapi masyarakat perkotaan, mulai dari keterbatasan lahan produksi pangan, belum optimalnya pemanfaatan limbah organik rumah tangga, hingga keterbatasan pemasaran produk dan belum terintegrasinya kelembagaan kelompok masyarakat dalam sebuah model usaha terpadu.

Hidroponik Jadi Solusi Lahan Terbatas

Menjawab kondisi tersebut, tim USK memperkenalkan konsep urban farming dengan memanfaatkan lahan pekarangan dan teknologi hidroponik.

Masyarakat mendapatkan pelatihan mulai dari penyemaian, penanaman, pemeliharaan, pengelolaan nutrisi, pengendalian hama dan penyakit hingga proses panen.

Ketua tim pelaksana, Ira Manyamsari, S.P., M.Si., mengatakan pengembangan pertanian di kawasan perkotaan membutuhkan pendekatan yang disesuaikan dengan kondisi dan potensi lahan masyarakat.

“Lahan yang terbatas bukan berarti masyarakat tidak dapat menghasilkan pangan. Dengan teknologi hidroponik dan optimalisasi pekarangan, ruang-ruang yang sebelumnya tidak produktif dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan sayuran sekaligus menjadi bagian dari kegiatan ekonomi masyarakat,” ujarnya.

Sebagai bagian dari program, tim USK membangun satu unit instalasi hidroponik yang akan difungsikan sebagai lokasi pembelajaran sekaligus demplot bagi masyarakat.

Pendampingan juga diberikan secara intensif agar masyarakat mampu mengelola hidroponik secara mandiri, termasuk dalam pengelolaan nutrisi, perawatan tanaman, pengendalian hama hingga proses panen.

Program tersebut menargetkan 80 persen peserta mampu melakukan budidaya hidroponik secara mandiri setelah mengikuti pelatihan dan pendampingan.

Instalasi hidroponik juga dilengkapi panduan dan SOP budidaya agar pengetahuan yang diperoleh masyarakat dapat diterapkan secara berkelanjutan.

Limbah Rumah Tangga Diolah Jadi Kompos dan POC

Tak hanya fokus pada produksi pangan, USK juga mendorong masyarakat mengubah limbah organik rumah tangga menjadi produk yang bermanfaat bagi pertanian.

Melalui pelatihan dan praktik langsung, masyarakat diperkenalkan dengan teknik pengolahan limbah menggunakan komposter untuk menghasilkan kompos dan pupuk organik cair (POC).

Kegiatan ini diarahkan untuk membentuk satu kelompok pengolah limbah yang aktif, dilengkapi peralatan komposter sederhana dan modul pelatihan.

Kompos dan POC yang dihasilkan selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan urban farming. Dengan demikian, pengelolaan limbah dan produksi pangan dapat terhubung dalam satu sistem pertanian terpadu.

Dari Produksi hingga Pemasaran Digital

USK juga tidak ingin pengembangan pertanian berhenti pada kemampuan masyarakat menghasilkan produk.

Aspek pemasaran menjadi bagian penting dalam program ini. Masyarakat diberikan pelatihan mengenai branding, desain kemasan, katalog produk hingga pemasaran digital.

Pendekatan tersebut diharapkan mampu memperluas jangkauan pemasaran sekaligus meningkatkan nilai tambah produk yang dihasilkan masyarakat.

Program menargetkan terbentuknya satu unit usaha yang aktif secara digital, memiliki akun marketplace, desain kemasan dan katalog produk, serta mampu mendorong peningkatan penjualan.

Tim pelaksana menilai kemampuan memproduksi pangan perlu berjalan beriringan dengan kemampuan mengelola usaha dan memasarkan produk agar kegiatan pertanian dapat berkembang menjadi aktivitas ekonomi yang berkelanjutan.

Kolaborasi Lintas Keahlian

Program pemberdayaan masyarakat di Gampong Ie Masen Kayee Adang dilaksanakan melalui kolaborasi dosen USK dari berbagai bidang keilmuan.

Ira Manyamsari, S.P., M.Si. dari Program Studi Agribisnis bertindak sebagai koordinator pelaksanaan program. Ia menangani koordinasi kegiatan, pengadaan peralatan hidroponik, pelatihan branding dan kemasan serta pemasaran digital.

Sementara itu, Dr. Ir. Elly Kesumawati, M.Agric.Sc. dari Program Studi Agroteknologi memberikan penyuluhan dan demonstrasi budidaya hidroponik, mulai dari penyiapan alat hingga proses panen.

Adapun Dr. Ir. Manfarizah, M.Si. dari Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan memberikan penyuluhan dan demonstrasi mengenai produksi POC serta pestisida nabati.

Kolaborasi lintas bidang tersebut diarahkan untuk membangun sebuah sistem yang menghubungkan produksi pangan, pemanfaatan limbah, penggunaan pupuk organik, pengembangan usaha, pemasaran hingga penguatan kelembagaan masyarakat.

Menuju Model Gampong Pertanian Terpadu

Penguatan kelembagaan menjadi bagian penting dalam program tersebut. Pendampingan dilakukan untuk membentuk kelompok usaha yang mampu mengelola kegiatan secara bersama dan berkelanjutan.

Target akhirnya adalah terbentuknya satu kelompok yang aktif dan mandiri, disertai dokumen model gampong binaan dan SOP kelembagaan.

Dengan pendekatan ini, Gampong Ie Masen Kayee Adang diharapkan tidak hanya memiliki kegiatan hidroponik, tetapi mampu mengembangkan model pertanian terpadu skala gampong.

Model tersebut menghubungkan pemanfaatan pekarangan, produksi sayuran, pengolahan limbah organik, pemanfaatan pupuk organik, pengembangan usaha dan pemasaran digital.

Konsep ini sekaligus menunjukkan bahwa pertanian tetap dapat dikembangkan di kawasan perkotaan dengan lahan terbatas melalui pemanfaatan teknologi sederhana, pengetahuan masyarakat dan penguatan kelembagaan.

Melalui program tersebut, USK terus memperkuat peran perguruan tinggi dalam mendampingi masyarakat melalui penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan serta potensi lokal.

Tim pelaksana menyampaikan terima kasih kepada Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Syiah Kuala atas dukungan terhadap pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat melalui sumber dana PTNBH Universitas Syiah Kuala.

62
Previous Post

Tim Ekspedisi Patriot IPB Dorong Petani Salor Naik Kelas Lewat Hilirisasi Padi

Next Post

Dimana Ada Asap, di Situ Ada Orang Pidie Kisah Perantauan, Jiwa Dagang, dan Identitas Orang Pidie

Admin

Admin

Next Post

Dimana Ada Asap, di Situ Ada Orang Pidie Kisah Perantauan, Jiwa Dagang, dan Identitas Orang Pidie

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Redaksi
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber

Hak Cipta Asakita.news © 2024 MUSTAKIM

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Daerah
  • Nasional
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Pariwara
  • Siswa Menulis
  • Suara Guru
  • Suara Kita

Hak Cipta Asakita.news © 2024 MUSTAKIM

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In