Asakita.News | PIDIE – Di sebuah rumah kayu sederhana di Gampong Pulo Loih, Kecamatan Geumpang, Kabupaten Pidie, seorang lelaki tua duduk menatap jauh. Namanya Tgk. M. Jalil Husein, akrab disapa Abu Jali. Dulu, ia adalah salah satu yang mengangkat senjata di hutan-hutan Aceh demi marwah tanah rencong.
Kini, 21 tahun setelah perdamaian Helsinki ditandatangani, air mukanya tak lagi garang. Yang tersisa hanya kecewa yang dipendam dalam-dalam.
Hal itu terungkap saat Kasat Intelkam Polres Pidie, IPTU Bustamam, S.E., M.M., datang bersilaturahmi ke kediamannya, Rabu malam (17/9/2026). Bukan operasi, bukan penggerebekan. Hanya silaturahmi untuk menjaga Aceh tetap damai dalam bingkai NKRI.
Di depan Kasat Intel, Abu Jali dan sahabat-sahabatnya tidak meminta jabatan. Tidak meminta proyek. Ia hanya menitipkan satu harapan lirih kepada para pemimpin Aceh hari ini.
“Kami hanya ingin menyampaikan harapan kepada orang tua kami, khususnya Sarjani Abdullah dan Al Zaizi Umar selaku Bupati dan Wakil Bupati Pidie, Teuku Malek, Muzakir Manaf, Fadhlullah (Dek Fadh), Abang Samalanga Ketua DPRA, selaku pemimpin pemerintahan Aceh saat ini, agar dapat melihat dan memperhatikan kami,” ucapnya pelan.
Baginya, perdamaian yang dinikmati Aceh hari ini dibayar dengan darah dan air mata kawan-kawannya yang telah tiada. Namun setelah 21 tahun damai, ia merasa perjuangan itu perlahan dilupakan.
“Saya sama sekali tidak mencari popularitas. Saya hanya ingin memperjuangkan hak-hak masyarakat Aceh dan juga hak para pejuang atau mantan kombatan GAM,” tuturnya.
“Saat ini saya pribadi merasa kecewa dengan pemerintah pusat dan Aceh yang sedang berjalan sekarang. Menurut saya dan rekan-rekan lainnya, pemerintah pusat dan Aceh saat ini kurang memperhatikan hak-hak dan kesejahteraan masyarakat Aceh,” ungkap Abu Jali.
Di pelosok Geumpang, masih banyak Abu Jali-Abu Jali lain. Mereka tidak butuh panggung. Mereka hanya butuh diingat, bahwa mereka pernah berjuang agar bendera Merah Putih dan Bulan Bintang bisa berkibar berdampingan dalam damai.
“Kami sedih sampai hari ini status bendera Bulan Bintang belum jelas. Kami berharap jangan lagi ada pertumpahan darah hanya gara-gara bendera. Semoga Aceh tetap damai dalam bingkai NKRI,” ujarnya lirih.
Menjelang Milad GAM ke-50, kerinduan mereka sederhana: jangan biarkan perdamaian 21 tahun ini hanya menjadi sejarah di buku, tapi benar-benar dirasakan sampai ke dapur-dapur mantan kombatan yang kini menua dalam sepi.
Semoga suara lirih dari Pulo Loih ini sampai ke meja para pemimpin di Pidie Jakarta maupun di Banda Aceh.


